BPBD Sebut Musim Kering Panjang Picu Karhutla Tarakan

  • 31 Agt 2026 10:12 WIB
  •  Tarakan

rri.co.id, Tarakan - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mengungkapkan bahwa kondisi cuaca ekstrem berupa kekeringan berkepanjangan yang melanda wilayah ini telah memicu peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peningkatan suhu panas yang terjadi belakangan ini membuat vegetasi dan lahan kosong menjadi sangat rentan tersulut api, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia di lapangan.

Kepala Seksi Pencegahan BPBD Kota Tarakan, Paulus Dwi Budi Sunyoto, menjelaskan bahwa pihaknya bersama instansi terkait saat ini harus bekerja ekstra keras untuk mendatangi berbagai titik kawasan yang terbakar demi mencegah perambatan api ke permukiman warga. Menurutnya, luas lahan yang terbakar di Kota Tarakan hingga saat ini bahkan sudah tercatat berada di atas angka 25 hektar dan berpotensi terus bertambah jika musim kering ini terus berlanjut.

"Sampai dengan hari ini kami BPBD Kota Tarakan dengan sikapnya, dengan kekuatan personel kami, hampir setiap hari dari pagi, siang, maupun malam selalu ekstra untuk bagaimana mendatangi kawasan-kawasan yang memang terbakar," ujarnya.

Selain faktor cuaca, BPBD bersama pihak terkait juga mengidentifikasi sejumlah wilayah di Kota Tarakan yang memiliki tingkat kerawanan paling tinggi terhadap ancaman karhutla. Berdasarkan dokumen kajian risiko bencana, beberapa kawasan yang menjadi fokus utama penanganan meliputi Kelurahan Pantai Amal, Kelurahan Juata Permai, hingga kawasan Juata Laut.

Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki potensi risiko yang lebih besar karena terdapat banyak area lahan kosong serta aktivitas pertanian dan perkebunan warga. Oleh karena itu, pihak BPBD mengimbau masyarakat agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan menghindari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar selama musim kering berlangsung.

Dalam upaya memperkuat penanganan di lapangan, BPBD Kota Tarakan juga mengoptimalkan peran serta masyarakat melalui pembentukan kelompok relawan seperti Masyarakat Peduli Api (MPA) serta forum pengurangan risiko bencana. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu melakukan deteksi dini sekaligus mempercepat penanganan di titik-titik rawan sebelum api meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Pemerintah daerah berharap masyarakat dapat menyikapi situasi musim kering ini secara arif, bijaksana, serta patuh terhadap imbauan keselamatan lingkungan. Kesadaran kolektif dari seluruh elemen warga dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga Kota Tarakan tetap aman, sejuk, dan terhindar dari bencana kebakaran lahan yang merugikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....