Disdik Bulungan: Pelestarian Budaya Tak Boleh Berhenti di Panggung Seremonial

  • 04 Jul 2026 11:48 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tanjung Selor - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan menegaskan pelestarian budaya lokal tidak boleh hanya menjadi agenda seremonial yang ramai saat festival, tetapi kemudian kembali terlupakan.

Upaya menjaga identitas daerah harus dimulai dari dunia pendidikan melalui pembelajaran yang berkelanjutan dan keterlibatan aktif generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bulungan, Suparmin S, mengatakan penguatan budaya lokal telah menjadi bagian dari sistem pendidikan di Bulungan.

Salah satunya melalui penerapan muatan lokal bahasa daerah serta keterlibatan pelajar dalam berbagai kegiatan kebudayaan hingga tingkat nasional.

"Muatan lokal bahasa daerah sudah kami terapkan di sekolah. Selain itu, peserta didik juga rutin mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu hingga tingkat nasional, serta berbagai kegiatan seperti pawai budaya dan pementasan seni. Ini menjadi langkah nyata agar budaya tidak sekadar dikenalkan, tetapi dipraktikkan oleh generasi muda," tegasnya.

Menurut Suparmin, derasnya arus globalisasi menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan budaya lokal.

Karena itu, sekolah harus menjadi benteng utama untuk menanamkan identitas budaya kepada peserta didik sejak dini, sehingga mereka tidak kehilangan jati diri di tengah perkembangan zaman.

Ia menjelaskan, pelestarian budaya yang dijalankan Disdikbud tidak hanya menyentuh budaya tak benda, seperti bahasa, seni, dan tradisi, tetapi juga budaya benda yang menjadi bagian dari warisan daerah.

Seluruh program tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa budaya merupakan aset yang harus dijaga, bukan sekadar dipertontonkan.

"Kalau budaya hanya hadir saat festival, tentu itu tidak cukup. Budaya harus hidup dalam keseharian masyarakat, dimulai dari lingkungan sekolah. Di situlah nilai-nilai budaya diwariskan kepada generasi penerus," ujarnya.

Menanggapi wacana pembentukan program studi atau fakultas kebudayaan di Kalimantan Utara, Suparmin menilai gagasan tersebut layak diapresiasi.

Namun, menurutnya, keberhasilan pelestarian budaya tidak dapat dibebankan hanya kepada perguruan tinggi.

"Kalau memang kebutuhan dan pangsanya ada, tentu itu baik. Tetapi jangan sampai muncul anggapan bahwa pelestarian budaya hanya menjadi tugas perguruan tinggi. Pendidikan dasar, pendidikan menengah, komunitas budaya, pemerintah, hingga masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama besar," katanya.

Suparmin menegaskan, keberlangsungan budaya lokal akan sangat bergantung pada keseriusan seluruh pemangku kepentingan membangun kolaborasi yang nyata.

Tanpa kerja bersama, berbagai upaya pelestarian dikhawatirkan hanya menjadi kegiatan seremonial yang tidak memberi dampak jangka panjang.

"Budaya adalah identitas daerah. Kalau tidak dijaga bersama, lambat laun bisa terkikis oleh perkembangan zaman. Karena itu, kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan agar budaya lokal Bulungan tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang," pungkasnya. (rln)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....