Membangun Keluarga Samawa

  • 16 Mar 2026 10:07 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Membangun keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah (Samawa) bukan sekadar impian tanpa usaha. Dalam Dialog Ramadhan yang disiarkan RRI Tarakan pada Minggu (15/3/2026), Ustadz Ibrahim menekankan bahwa pondasi utama keluarga yang kokoh dimulai dari pelurusan niat dan ketaatan terhadap legalitas hukum negara.

Menurut Ustadz Ibrahim, pernikahan merupakan ibadah terpanjang bagi umat Muslim. Oleh karena itu, persiapan yang matang sejak awal menjadi penentu ketahanan keluarga di masa depan.

Dalam tausiahnya, Ustadz Ibrahim mengingatkan kembali pesan Rasulullah SAW mengenai empat kriteria dalam memilih pasangan: kecantikan/ketampanan, harta, keturunan, dan agama. Namun, ia menekankan agar aspek agama menjadi prioritas utama.

"Kecantikan akan dimakan waktu, harta bisa habis, tetapi agama adalah pondasi yang tetap. Jika agamanya baik, maka ia akan tahu cara menghargai pasangannya dalam kondisi apa pun," ujar Ustadz Ibrahim.

Hal yang cukup menarik perhatian dalam dialog tersebut adalah pembahasan mengenai legalitas pernikahan. Ustaz Ibrahim menyoroti maraknya praktik nikah siri yang seringkali merugikan pihak perempuan dan anak.

Ia menjelaskan bahwa mulai tahun 2026, aturan hukum terkait pernikahan siri semakin diperketat melalui KUHP terbaru. Selain dampak hukum, masalah administrasi seperti pengurusan BPJS dan akta kelahiran anak menjadi kendala besar jika pernikahan tidak tercatat secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA).

"Jangan hanya karena ingin praktis atau menghindari prosedur RT/RW, lalu memilih nikah siri. Dampaknya jangka panjang, terutama bagi status hukum anak dan istri," tegasnya.

Terkait dinamika rumah tangga saat ini, Ustadz Ibrahim tidak menampik bahwa media sosial sering menjadi pemicu keretakan. Munculnya fenomena membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain di jagat maya dapat memicu rasa tidak puas.

Solusi yang ditawarkan adalah komunikasi dan rasa syukur. Ia menjelaskan bahwa setiap pasangan memiliki kelebihan yang berbeda. Laki-laki diciptakan dengan jiwa kepemimpinan dan fokus yang kuat, sementara perempuan memiliki keistimewaan dalam melakukan banyak tugas sekaligus (multi-tasking).

"Kuncinya adalah saling pengertian. Jangan mengambil keputusan saat emosi sedang memuncak. Ambil waktu untuk tenang, beribadah, dan berpikir jernih sebelum memutuskan sesuatu dalam rumah tangga," tambahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....