Ramadhan Momentum Orang Tua Ajarkan Anak Toleransi dan Kepedulian
- 09 Mar 2026 12:57 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Membangun karakter anak sejak dini dapat dilakukan melalui momentum bulan suci Ramadhan. Hal ini disampaikan oleh Ustazah Dra. Hj. Maryam, M.Si dalam program Dialog Ramadhan di Programa 1 RRI Tarakan. Ia menjelaskan bahwa keluarga adalah madrasah pertama bagi anak untuk memahami arti keberkahan dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Ustazah Maryam menyarankan para orang tua untuk mengajak anak-anak mereka terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Misalnya, saat membagikan sembako atau takjil, anak diajak melihat realita kehidupan masyarakat yang kurang mampu. Dengan melihat langsung, anak akan belajar bersyukur atas kecukupan yang mereka miliki di rumah.
Peran orang tua sebagai teladan sangat krusial dalam menciptakan suasana rumah yang harmonis. Ia menekankan konsep Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah yang harus dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Rumah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman, bukan tempat yang penuh dengan bentakan atau bahasa yang kasar.
Selama bulan puasa, keluarga diimbau untuk lebih sabar dan menjaga komunikasi yang santun. Menahan amarah adalah salah satu ujian terbesar dalam berpuasa. Jika ada hal yang mengganjal, lebih baik diam daripada mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati anggota keluarga lainnya, karena diam dalam kondisi tersebut adalah emas.
"Pendidikan akhlak di bulan Ramadhan mencakup pengendalian diri dari sifat-sifat negatif. Anak-anak perlu diajarkan bahwa puasa adalah perisai. Dengan perisai tersebut, seseorang seharusnya terlindungi dari keinginan untuk berkata kotor atau melakukan perbuatan yang merugikan orang lain,"Urainya.
Dalam lingkungan yang majemuk seperti Tarakan, toleransi antar umat beragama juga menjadi materi pendidikan yang penting. Ustazah Maryam menegaskan bahwa kebaikan tidak boleh dibatasi oleh tembok agama. Memberi bantuan kepada tetangga non-muslim yang sedang sakit atau membutuhkan adalah bentuk solidaritas sosial yang tinggi.
Solidaritas ini dapat diperkuat melalui lembaga-lembaga seperti Baznas atau yayasan panti asuhan yang bergerak tanpa membedakan latar belakang suku dan agama. Ramadhan menjadi ajang pembuktian bahwa umat Islam adalah umat yang mencintai perdamaian dan kebersamaan dalam bingkai kemanusiaan.
Menutup tausiahnya, beliau berharap agar rutinitas Ramadhan setiap tahunnya membawa perubahan kualitas diri yang lebih baik. Harapan terbesarnya adalah generasi penerus dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa, cerdas secara spiritual, dan memiliki kepedulian sosial yang mendalam terhadap lingkungan sekitarnya.