Karakteristik Hamba yang Diangkat Derajatnya di Bulan Ramadhan

  • 08 Mar 2026 11:27 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO,ID, Tarakan - Dialog Ramadhan kembali hadir dengan menghadirkan Ustadz Mukhsin , S.Ag untuk mengupas tuntas mengenai kualitas spiritual seorang hamba. Dalam dialog yang dipandu oleh host Ervi Febrianti, Ustadz Mukhsin menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan menahan lapar, melainkan momentum bagi Allah untuk mengangkat derajat hambaNya yang istimewa.

Dalam tausiahnya, Ustadz Mukhsin merujuk pada kitab Risalat Ramadan karya Syekh Jarullah, yang menyebutkan bahwa setidaknya ada lima karakteristik utama yang membuat seorang mukmin mendapatkan kedudukan khusus di sisi Allah selama bulan suci ini.

Poin utama yang ditekankan adalah Hati yang Ikhlas (Qalbun Syakirun). Ustadz Mukhsin menjelaskan bahwa hamba yang istimewa menyambut Ramadhan dengan kegembiraan, bukan sebagai beban.

"Tanda ia ikhlas adalah adanya kesungguhan atau Mujahidun Linafsih. Ia tidak main-main dalam mengisi waktu Ramadhan karena sadar ini adalah peluang terbaik untuk mengumpulkan bekal akhirat," ujarnya.

Selain itu, ia memperkenalkan konsep Ratibul Amal atau kerapian dalam beribadah. Ia mengimbau agar umat Muslim tidak beribadah secara acak-acakan seperti hanya ramai di masjid pada pekan pertama lalu menghilang di pekan berikutnya. Menurutnya, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan rapi (Ahsani Takwim), maka sudah sepatutnya manusia membalasnya dengan persembahan amal yang rapi pula.

Dalam sesi tanya jawab, dialog sempat menyinggung soal persepsi rezeki. Ustadz Mukhsin mengingatkan bahwa banyak orang terjebak pada pandangan bahwa rezeki hanya berupa materi atau kenaikan gaji.

"Helaan napas, kesehatan, bahkan hal sekecil kemampuan untuk buang angin adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Seringkali kita baru sadar saat nikmat itu dicabut," tambahnya sembari memberikan tips kesehatan tradisional menggunakan daun jarak untuk mengatasi perut kembung.

Dialog ditutup dengan pesan bahwa Ramadhan adalah masa Tarbiyah atau pendidikan jiwa. Kondisi perut yang lapar saat berpuasa justru disebut sebagai kunci untuk melembutkan hati dan meringankan tubuh dalam beribadah, berbeda dengan kondisi perut kenyang yang cenderung membuat orang malas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....