"Bibit Fisik" Paskibraka, Zainal Tarakan Mantap Tatap IPDN

  • 09 Jul 2026 15:49 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN – Keberhasilan menembus jajaran Paskibraka Tingkat Nasional tidak membuat Muhammad Zainal Ihsan berpuas diri. Pemuda asal SMA Hang Tuah Tarakan ini ternyata telah membidik target besar berikutnya untuk masa depan, yakni menempuh pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Dalam dialog Sore Ceria di RRI Pro 2 Tarakan, Zainal mengungkapkan bahwa seluruh gemblengan fisik dan mental yang ia terima selama seleksi menjadi modal awal yang sangat berharga. Sistem pelatihan yang semi-militer dinilainya sangat selaras dengan pola pendidikan sekolah kedinasan yang ia impikan.

"Di Paskibraka ini saya belajar banyak dari seleksi Binjas (Bimbingan Jasmani). Karena di IPDN nanti juga ada unsur semi-militernya, jadi melalui pengalaman ini saya sudah punya bibit-bibit dasar dan tinggal mengembangkan potensi yang ada," ujar anak bungsu dari dua bersaudara tersebut.

Perjalanan Zainal menuju tingkat nasional pun terbilang unik dan penuh kejutan. Ia mengaku sempat merahasiakan proses pendaftaran awal di tingkat kabupaten dari orang tuanya, dan baru meminta tanda tangan saat pengurusan berkas administrasi.

"Pas seleksi kabupaten itu saya kurang memberitahu ke orang tua saya, saya diam-diam. Ketika sudah lulus pusat baru tahu ternyata untuk itu, wah jadi lebih surprise lagi ternyata," kenang Zainal sambil tersenyum.

Zainal merasa salah satu kunci kelolosannya ke tingkat pusat adalah kombinasi antara kesiapan fisik, nilai kesehatan yang prima, serta kemampuan komunikasi yang baik. Saat unjuk bakat di tingkat pusat yang dinilai langsung oleh para ahli, ia memilih menampilkan pidato untuk menunjukkan rasa percaya dirinya.

"Kalau untuk saya ya mungkin unggul di cara saya public speaking lewat pidato. Selain itu, saat verifikasi nasional nilai kesehatan juga sangat penting dan diperhatikan, seperti postur ketegapan bahu hingga gigi," jelasnya.

Menariknya, latar belakang Zainal yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren (MTS) diakuinya sangat membantu proses adaptasi selama karantina nasional. Pengalaman hidup mandiri dan totalitas di pondok membuatnya terbiasa berbaur dengan perwakilan dari provinsi lain serta solid dalam bekerja sama tim demi pengabdian bangsa.

Di akhir dialog, pemuda bertinggi badan 173 cm ini menitipkan pesan mendalam bagi generasi muda di Kalimantan Utara agar terus berjuang mengejar mimpi. "Jangan pernah menyerah dan juga terus berusaha. Usahakan doamu dan juga jangan lupa doakan usahamu," pungkas Zainal mantap. (setya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....