Makna Hidup Bhikkhu, Jubah Orange Hingga Kepala Plontos
- 14 Mei 2025 19:52 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan: Suasana studio Podcast RRI Tarakan terasa lebih hening dan hangat saat Bhikkhu Pabhajayo hadir sebagai tamu istimewa. Dibalut jubah oranye khas tradisi Theravada, Bhikkhu Pabhajayo duduk tenang di hadapan mikrofon, menyambut hangat sapaan dari host Kisah Pekan Ini, Gode Permana. Perbincangan pun mengalir, mengupas sisi-sisi kehidupan seorang Bhikkhu yang masih jarang diketahui masyarakat awam.
Mungkin banyak yang belum tahu, kehidupan seorang Bhikkhu tidak hanya soal meditasi dan kehidupan sederhana di vihara. Dibalik kesederhanaannya, ternyata ada disiplin ketat yang harus dijalani.
Bhante menjelaskan, dalam ajaran Sangha Theravada, terdapat empat pelanggaran berat yang disebut Parajika. Jika dilanggar, seorang bhikkhu otomatis kehilangan statusnya—tidak perlu menunggu keputusan dewan atau pengakuan resmi.
“Empat pelanggaran itu sangat tegas. Sekali dilanggar, meskipun tidak diumumkan, bhikkhu itu bukan lagi bhikkhu,” tegas Bhante saat berbincang di Kisah Pekan Ini Pro 1 Tarakan.
Pelanggaran pertama, berhubungan badan, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Kedua, berbohong tentang pencapaian spiritual, seperti mengaku sudah mencapai kesucian atau kesaktian, meskipun hanya untuk bercanda. Ketiga, mencuri, yang nilainya diukur setara jutaan rupiah. Terakhir, membunuh, khususnya menghilangkan nyawa manusia, bahkan dalam kondisi membela diri.
“Tidak ada kompromi. Sekali melanggar, dia keluar dari kebhikkhuan. Ini soal integritas spiritual,” ujar Bhante.
Bukan hanya aturan, Bhante juga mengungkap simbol-simbol yang melekat pada bhikkhu. Kepala plontos, misalnya, bukan sekadar gaya, tapi lambang meninggalkan kehidupan duniawi. Jubah oranye yang dikenakan pun punya kisah tersendiri.
“Jubah yang dikenakan berasal dari tradisi lama. Dulu para bhikkhu memungut kain kafan dari mayat, lalu dijahit menjadi jubah. Warna oranye? Itu dari getah pohon seperti getah nangka yang jadi pewarna alami,” ungkapnya.
Tradisi ini, menurut Bhante, bertahan hingga kini sebagai simbol kesederhanaan dan keteguhan dalam meninggalkan kemewahan duniawi.
Menariknya lagi, seorang bhikkhu bahkan dilarang mengenakan pakaian sipil saat pulang kampung. Bahkan, waktu bermalam di rumah keluarga dibatasi maksimal tiga malam.
“Karena setelah menjadi bhikkhu, dia bukan lagi milik keluarga, tapi umat Buddha. Maka tidak boleh seenaknya ganti baju sipil, apalagi curi-curi waktu bertemu mantan,” kata Bhante sambil tersenyum.
Dalam kesempatan yang sama, Bhante juga mengingatkan makna Waisak yang jatuh pada 12 Mei. Tahun ini, Sangha Theravada Indonesia mengusung tema ‘Kebijaksanaan Dasar Keluhuran Bangsa’.
“Ini bukan hanya tentang memperingati tiga peristiwa penting Buddha, tapi bagaimana kebijaksanaan itu diterapkan dalam kehidupan sosial. Umat Buddha yang punya kebijaksanaan, dia akan mampu menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk,” ujarnya.
Bhante pun mengapresiasi kondisi kerukunan beragama di Tarakan. Meski baru beberapa kali berkunjung, ia melihat umat Buddha di kota ini bisa menjalankan keyakinannya dengan bebas dan damai.
“Saya percaya, kerukunan beragama di Tarakan terjaga baik. Ini modal penting ditengah keberagaman Indonesia,” pungkas Bhante.