Menjaga "Arsip Hidup" Nusantara dari Ancaman Kepunahan di Era Digital

  • 27 Agt 2026 00:56 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Tradisi lisan di Indonesia kini menghadapi tantangan berat di tengah pesatnya perkembangan era digital. Jika tidak segera diselamatkan, bangsa ini terancam kehilangan akar identitasnya yang paling mendasar.

Hal tersebut diungkapkan oleh jurnalis, sastrawan, sekaligus budayawan Putu Fajar Arcana dalam wawancara di Kulturasi Podcast. Menurutnya, tradisi lisan bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan "arsip hidup" (living archives) yang merekam peradaban sebelum tulisan dikenal.

"Lewat arsip hidup ini, leluhur kita mencatat sejarah harian, mulai dari cara bercocok tanam, membaca rasi bintang untuk pertanian, navigasi laut, hingga pengobatan tradisional," ujar Putu.

Putu menceritakan pengalamannya saat turun ke lapangan dan menemukan tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat. Di Jambi, ia menyaksikan syair mujuk sialang, sebuah tradisi lisan berupa mantra atau rayuan yang dilantunkan untuk membujuk lebah liar agar pergi sejenak sehingga madunya bisa dipanen dengan aman.

"Di situ ada nilai penghormatan terhadap alam semesta. Mereka tidak menebang pohonnya, tetapi merayunya seperti kekasih," tutur Putu.

Contoh lain ditemukan di Banyumas, Jawa Tengah. Calon penari lengger harus menjalani laku spiritual dengan menari di depan makam keramat Ki Secamenggolo untuk mendapatkan restu. Tradisi ini menunjukkan hubungan erat antara kesenian, asal-usul desa, dan penghormatan kepada leluhur.

Namun, keberadaan "arsip hidup" ini kian terancam oleh budaya digital. Putu menyoroti sistem algoritma media sosial saat ini yang cenderung menyukai konten pendek, instan, dan emosional. Hal ini berbanding terbalik dengan sifat tradisi lisan yang rumit dan membutuhkan durasi panjang, seperti pertunjukan wayang kulit.

"Wayangan itu butuh waktu semalam suntuk, rumit dan panjang. Sifat ini 'berkelahi' dengan algoritma digital yang serbacepat," jelasnya.

Jika penuturan lisan ini berhenti diwariskan, Indonesia tidak hanya kehilangan kesenian, tetapi juga bahasa lokal dan kearifan ekologis. Putu mengibaratkan Indonesia sebagai pohon besar yang akan keropos jika akar tradisi lisannya mati.

Untuk mencegah kepunahan, Putu mendorong generasi muda memanfaatkan gawai (gadget) mereka secara aktif. Langkah paling sederhana adalah merekam cerita, dongeng, atau asal-usul daerah langsung dari orang tua atau kakek-nenek di rumah untuk kemudian dibagikan ke media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....