Ciri Anda Mendapat Rahmat Allah di Bulan Puasa, Simak Penjelasannya!

  • 09 Mar 2026 11:25 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Program Dialog Ramadhan di Programa 1 RRI Tarakan menghadirkan Ustaz Abdul Malik, Ketua MUI Kecamatan Tarakan Barat. Dalam kesempatan tersebut, menekankan bahwa bulan suci Ramadhan adalah anugerah terbesar bagi umat Nabi Muhammad SAW. Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan momentum emas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ustaz Malik menjelaskan bahwa keberadaan rahmat Allah di bulan ini terlihat dari pelipatan pahala amalan. Jika di luar Ramadhan satu kebaikan dinilai sepuluh, maka di bulan ini Allah melipatgandakannya jauh lebih banyak. Bahkan, satu amalan sunnah di bulan Ramadhan setara dengan nilai amalan fardu di bulan lainnya.

"Salah satu puncak rahmat yang paling dinanti adalah malam Lailatul Qadar. Malam ini digambarkan sebagai kado spesial yang nilainya lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Umat Islam diajak untuk bersungguh-sungguh mencari malam mulia ini melalui peningkatan kualitas ibadah sejak awal bulan,"Ungkapnya.

Dalam dialog tersebut, Ustaz Malik juga menyoroti berbagai tipe orang saat menghadapi Ramadhan. Ada yang sangat aktif beribadah, namun ada pula yang hanya sekadar berpuasa tanpa menjaga lisan dari ghibah dan fitnah. Beliau mengingatkan bahwa rahmat Allah akan lebih mudah diraih oleh mereka yang menjaga integritas puasanya secara menyeluruh.

Ciri utama seseorang mendapatkan rahmat Allah adalah dilapangkannya dada untuk menerima syariat Islam dengan bahagia. Seseorang yang merasa senang saat Ramadhan tiba, bukan malah mengeluh karena keterbatasan makan dan minum, merupakan tanda ia telah tersentuh oleh rahmat-Nya.

Terkait ibadah sosial, beliau menekankan pentingnya berbagi takjil sebagai bentuk kasih sayang antar sesama. Memberi makan orang yang berbuka puasa akan mendatangkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala pelakunya. Ini adalah simbol kepedulian sosial yang nyata.

Ustaz Malik juga menjelaskan tentang konsep "pembakaran" dosa melalui iman yang kuat. Sebagaimana besi yang dibakar untuk memurnikan kualitasnya, ibadah Ramadhan berfungsi membakar noda hitam di hati sehingga manusia kembali murni dan bertaqwa. Taqwa inilah yang menjadi jembatan utama menuju ridha Allah.

Sebagai penutup, mengingatkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi. Hal ini merupakan bentuk apresiasi Tuhan terhadap hambanya yang ikhlas. Masyarakat Tarakan diajak untuk memanfaatkan sisa waktu di bulan suci ini dengan memperbanyak istighfar dan amal saleh sebelum Ramadhan berlalu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....