Tips Ramadhan 2026: Cara Lawan Lapar Mata dan Kelola Keuangan Bijak

  • 24 Feb 2026 08:28 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Memasuki minggu pertama Ramadhan, tantangan terbesar bagi masyarakat bukan lagi sekadar menahan lapar perut, melainkan menahan "lapar mata" dan godaan media sosial. Tren pamer takjil dan kegiatan berbagi yang diunggah ke dunia maya menjadi topik hangat dalam diskusi di RRI Tarakan.

Kepala Kemenag Tarakan, H. Syopyan, menanggapi tipisnya batasan antara dakwah dan riya di era digital. Menurutnya, memposting kegiatan ibadah atau berbagi adalah sah-sah saja asalkan niatnya untuk menginspirasi orang lain, bukan untuk mencari validasi atau pujian semata.

"Manusia memang memiliki kebutuhan untuk aktualisasi diri. Namun dalam ibadah, validasi Allah jauh lebih penting daripada validasi manusia di media sosial," tambah Dr. Ana Sri Ekaningsih mengenai fenomena flexing di bulan suci.

Diskusi ini juga membahas tradisi "ampau" atau fitrah saat lebaran. Masyarakat diingatkan untuk tidak memaksakan diri demi gengsi. Berbagi seharusnya sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok keluarga.

Terkait zakat fitrah, Kemenag Tarakan telah mengeluarkan panduan konversi nilai zakat untuk tahun ini. Masyarakat diberikan pilihan sesuai dengan kualitas beras yang dikonsumsi sehari-hari, mulai dari kategori terendah hingga tertinggi, guna memudahkan pelaksanaan kewajiban tersebut. [44:15]

Salah satu kemudahan di era modern adalah penggunaan teknologi seperti QRIS untuk pembayaran zakat dan sedekah. Hal ini dinilai sangat membantu efisiensi, asalkan disalurkan melalui lembaga resmi seperti Baznas atau UPZ yang terpercaya agar distribusinya tepat sasaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....