Refleksi Kemerdekaan dalam Mimbar Agama Buddha
- 19 Agt 2026 10:28 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Tarakan, Aditya Dhammajaya, S.Ag, menyampaikan pesan mendalam dalam siaran Mimbar Agama Buddha di RRI Pro 1 Tarakan. Dalam momentum Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Ia menekankan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan milik seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali.
Sejarah panjang pembentukan Republik Indonesia membuktikan keterlibatan aktif berbagai suku dan keyakinan dalam meraih kedaulatan. Perjuangan kolektif tersebut terwujud mulai dari peristiwa Rengasdengklok hingga perumusan naskah proklamasi. Umat Buddha turut mengambil peran nyata sejak era sebelum kemerdekaan hingga masa mempertahankan kedaulatan.
Sejumlah tokoh sejarah tercatat memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan pengembangan spiritualitas. "Jenderal Gatot Subroto dikenal dekat dengan ajaran Buddha dan turut membantu kebangkitannya kembali di Nusantara," tutur Aditya. Tokoh lain seperti Brigjen Soemantri Mohammad Saleh dan R.A. Kartini juga menunjukkan jejak pemikiran Buddhis dalam perjuangan mereka.
Perspektif ajaran Buddha memandang kemerdekaan tidak hanya sebatas kebebasan dari penjajahan fisik bangsa asing. "Vimutti atau kemerdekaan batin adalah membebaskan diri dari lobha, dosa, dan moha," jelasnya. Kemenangan sejati terletak pada kemampuan menaklukkan kekotoran batin dan hawa nafsu dalam diri sendiri.
Kerangka Empat Kebenaran Mulia turut mencerminkan perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Penjajahan digambarkan sebagai penderitaan atau Dukkha yang disebabkan oleh keserakahan bangsa kolonial. Sementara itu, peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi simbol titik akhir penderitaan atau Nirodha bagi seluruh rakyat.
Nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong royong berjalan selaras dengan konsep Sangha dalam kebersamaan menjaga kebaikan. Keberagaman suku dan agama di Indonesia justru menjadi kekuatan utama jika dirawat dengan rasa saling menghormati. Kemerdekaan yang telah diraih menuntut tanggung jawab seluruh warga untuk terus menjaga kerukunan nasional.
Penerapan makna kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dan konsisten. "Marilah kita mulai dari membebaskan pikiran dari kebencian dan prasangka terhadap sesama," ungkap Aditya. Langkah tersebut dilengkapi dengan latihan meditasi, aksi sosial, serta menjaga kelestarian lingkungan demi kemajuan bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....