Kisah Batik DRT Tarakan: Memberdayakan Disabilitas Melalui Seni

  • 26 Mar 2026 08:16 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Batik DRT yang berlokasi di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, kini menjadi sorotan karena keberhasilannya merangkul kelompok disabilitas dalam industri kreatif. Usaha yang dirintis oleh Sony Lolong atau yang biasa disapa Kang Soni sejak tahun 2011 ini tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi semata, tetapi juga mengemban misi kemanusiaan yang mendalam.

Kang Sony dalam program Podcast bersama RRI Tarakan, menjelaskan bahwa visi utamanya adalah membantu pemerintah dengan cara membina masyarakat yang memiliki keterbatasan. Ia percaya bahwa di balik kekurangan fisik yang dimiliki, teman-teman disabilitas mempunyai fokus dan potensi luar biasa yang sering kali diabaikan oleh sektor formal.

Salah satu perajin yang telah lama bergabung adalah Amelina (Mbak Lina), seorang penyandang disabilitas motorik yang mulai bekerja di Batik DRT sejak 2019. Meskipun awalnya tidak memiliki keahlian membatik, ketekunannya membuahkan hasil hingga ia mahir membuat pola dan mencanting kain batik secara mandiri.

Kang Sony menceritakan tantangan awal saat mengajar, terutama dalam berkomunikasi dengan penyandang tuna rungu. Ia bahkan rela belajar bahasa isyarat secara otodidak agar ilmu membatik dapat tersampaikan dengan baik kepada para perajinnya.

Kesabaran Kang Sony diuji ketika terjadi kesalahan produksi, seperti saat 180 potong kain batik PNS gagal karena kesalahan teknis dari para perajin disabilitas yang masih belajar. Namun, ia tidak marah dan justru menganggap kerugian finansial tersebut sebagai investasi agar anak didiknya menjadi lebih mahir.

"Batik DRT sendiri memiliki filosofi nama yang unik, yakni singkatan dari "Ketua RT", jabatan yang diemban saat pertama kali mendapatkan pelatihan membatik dari pemerintah. Nama yang terdengar seperti bahasa Italia ini justru memudahkan proses pendaftaran HAKI karena orisinalitasnya yang tinggi," Jelas Kang Sony.

Selain disabilitas, Kang Sony juga sempat merangkul mantan narapidana dan penyintas narkotika untuk bergabung. Baginya, memberikan keterampilan adalah cara terbaik untuk membantu seseorang agar bisa mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan orang lain.

Kini, karya-karya dari tangan perajin disabilitas Batik DRT telah banyak terserap oleh pasar, baik lokal maupun luar daerah. Melalui narasi edukasi kepada konsumen, Sony berhasil menumbuhkan rasa empati sehingga masyarakat lebih menghargai proses di balik selembar kain batik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....