Hotel Berbintang Tetap Jadi Primadona, Akomodasi Melati Kian Merana
- 06 Okt 2026 09:12 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Bali mencapai 68,19 persen pada Agustus 2026, menunjukkan tingkat okupansi yang kuat untuk segmen akomodasi kelas atas.
- Hotel melati atau akomodasi nonbintang mengalami penurunan hunian secara tahunan, mencerminkan disparitas performa antara segmen pasar akomodasi premium dan budget.
- Data dari BPS Provinsi Bali menunjukkan tren hunian tertinggi didominasi oleh akomodasi kelas atas, mengindikasikan preferensi pasar wisatawan terhadap hotel bintang.
RRI.CO.ID, Singaraja - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Agustus 2026 mencapai 68,19 persen, berbanding terbalik dengan kondisi hotel melati (nonbintang) yang justru mengalami penurunan hunian secara tahunan.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, di Denpasar, Kamis, 1 Oktober 2026, memaparkan bahwa tingkat hunian tertinggi didominasi oleh akomodasi kelas atas.
"Hotel kelas bintang lima masih menempati angka TPK tertinggi, kemudian disusul oleh bintang empat, baru bintang dua, dan seterusnya. Makin tinggi kelas bintang yang ditempati oleh wisman (wisatawan mancanegara), tentu akan sejalan dengan jumlah uang yang dibelanjakan," kata Agus.
Berdasarkan data BPS Bali, TPK hotel berbintang pada Agustus 2026 yang sebesar 68,19 persen tersebut tercatat naik 0,9 persen poin jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month). Namun, jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya (year-on-year), angka ini mengalami sedikit penurunan sebesar 1,34 persen poin.
Kondisi yang lebih menantang justru dialami oleh akomodasi skala kecil atau hotel nonbintang. TPK hotel nonbintang di Bali pada Agustus 2026 tercatat hanya mencapai 43,16 persen.
Meski secara bulanan angka tersebut naik 0,63 persen poin, BPS Bali mencatat penurunan hunian yang cukup tajam secara tahunan. "Jika dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, tercatat penurunan 7,10 persen poin untuk hotel nonbintang," ujar Agus menjelaskan.
Ketimpangan pariwisata ini terlihat jelas dari sebaran okupansi antarwilayah yang berbanding lurus dengan pola pergerakan wisatawan. Dari sembilan kabupaten/kota di Bali, Kabupaten Badung mendominasi tingkat penghunian kamar tertinggi mencapai 66,87 persen. Sebaliknya, Kabupaten Jembrana mencatatkan tingkat hunian terendah yang hanya sebesar 26,02 persen.
Agus memaparkan, rendahnya okupansi di wilayah pinggiran sejalan dengan tren kedatangan wisatawan nusantara (wisnus) dari luar Provinsi Bali (inter) yang masih terpusat di wilayah selatan. Sepanjang Agustus 2026, jumlah perjalanan wisnus inter ke Bali mencapai 471.383 perjalanan, atau turun 6,82 persen dibanding Juli 2026.
"Wisnus dari luar Bali ke Bali itu yang paling banyak tujuannya adalah ke Badung, nyaris 50 persen. Kedua baru ke Denpasar. Sementara yang ke kabupaten lain itu kebanyakan wisnus intra atau dari kabupaten lain di Bali. Tujuan (wisatawan) ke Jembrana adalah yang paling sedikit," papar Agus.
Adapun dari sisi durasi menetap, rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang tercatat selama 2,77 malam, dengan rincian tamu asing 2,93 malam dan tamu domestik 2,46 malam. Sementara itu, tamu di hotel nonbintang memiliki durasi singgah yang lebih singkat, yakni rata-rata 2,15 malam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....