Literasi Digital Penting dalam Penggunaan AI Pariwisata

  • 04 Okt 2026 20:11 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Penggunaan AI di sektor pariwisata memerlukan keseimbangan dengan literasi digital masyarakat dan pelaku wisata.
  • Informasi yang dihasilkan oleh sistem AI tidak selalu akurat dan terkini, sehingga memerlukan pemeriksaan ulang sebelum disebarluaskan.
  • Implementasi AI dalam pariwisata harus memperhatikan tiga aspek penting: keakuratan informasi, keamanan data pribadi wisatawan, dan pelestarian warisan budaya lokal.

RRI.CO.ID, Singaraja - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence-AI di sektor pariwisata perlu diimbangi dengan literasi digital. Selain membantu promosi dan memberikan informasi kepada wisatawan, penggunaan AI juga perlu memperhatikan keakuratan informasi, keamanan data, serta pelestarian budaya lokal.

Akademisi sekaligus pemerhati pariwisata, I Made Moga Karisma, mengatakan informasi yang dihasilkan AI tidak selalu akurat dan terkini. Karena itu, masyarakat maupun pelaku pariwisata perlu melakukan pemeriksaan ulang sebelum menggunakan atau menyebarluaskan informasi tersebut.

Ia menilai, AI dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara tepat. Sebaliknya, penggunaan tanpa pemahaman yang memadai dapat menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan pengguna.

“Data yang ditampilkan itu data yang sudah lama, kemudian tidak update, dan cenderung juga kok kayaknya ini nggak sesuai begitu ya. Nah, di sinilah kenapa kami sampaikan di awal pentingnya kita memahami yang namanya literasi digital. Apapun informasi yang kita peroleh dari dunia maya, digital itu perlu kita lakukan cross-check” ujarnya.

Selain keakuratan informasi, penggunaan AI dalam promosi pariwisata juga perlu memperhatikan keaslian budaya Bali. Moga mengingatkan, pengolahan gambar maupun konten budaya menggunakan AI harus mempertimbangkan nilai dan etika, terutama terhadap ornamen atau tradisi yang bersifat sakral.

Tantangan lainnya adalah kesenjangan penguasaan teknologi dan akses internet di sejumlah wilayah, serta keamanan data pribadi yang semakin banyak tersimpan di ruang digital.

“Nah, yang pertama, baru kita bicara masalah tantangannya, tentu masalah komodifikasi budaya. Ada kode etik-kode etik di budaya itu yang tidak bisa di-AI-kan. Yang kedua adalah masalah kesenjangan digital. Tidak semua wilayah di Bali sama penguasaan digitalnya. Kemudian yang terakhir, sesaking banyaknya kita memanfaatkan teknologi digital dan AI, maka data kita akan banyak ada di dunia maya. Bagaimana keamanan data ini, inilah yang memerlukan ujung pangkalnya itu ada pada literasi yang saya sampaikan tadi” katanya.

Moga berharap, pemanfaatan AI dalam sektor pariwisata dapat terus dikembangkan secara bijak dengan tetap mengutamakan keakuratan informasi, perlindungan data pribadi, dan penghormatan terhadap budaya lokal.

Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak hanya mendukung promosi destinasi, tetapi juga membantu menjaga keaslian pengalaman wisata dan kelestarian budaya Bali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....