Platform Digital Bantu Pantau Konservasi Laut

  • 30 Sep 2026 08:19 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Yayasan Banyumilir mengembangkan platform pelaporan berbasis geotagging bernama Pokmaswas.org untuk mendukung pengawasan kawasan konservasi laut di Buleleng.
  • Platform tersebut memungkinkan masyarakat melaporkan kejadian dan dugaan pelanggaran di laut secara langsung dengan pencatatan lokasi otomatis melalui geotagging.
  • Sistem yang dikembangkan terhubung ke server yayasan, memastikan semua laporan terekam dan terpantau secara real-time untuk pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif.

RRI.CO.ID, Singaraja - Pemanfaatan teknologi digital mulai dikembangkan untuk mendukung pengawasan dan pengelolaan kawasan konservasi laut di Buleleng. Yayasan Banyumilir mengembangkan platform pelaporan berbasis geotagging yang memungkinkan masyarakat menyampaikan informasi kejadian di laut secara langsung dan terpantau.

Ketua Yayasan Banyumilir, I Ketut Wiryadana, menjelaskan, platform Pokmaswas.org dikembangkan untuk mempermudah masyarakat melaporkan berbagai kejadian maupun dugaan pelanggaran di laut. Sistem tersebut dilengkapi teknologi geotagging yang mencatat lokasi laporan dan meneruskannya ke server yayasan.

Hingga saat penyampaian program, platform tersebut telah menghimpun lebih dari 500 laporan yang berasal dari masyarakat secara organik.

“Kami juga mengembangkan teknologi. Kebetulan tahun ini kami dapat HAKI satu dulu, hak cipta berkaitan dengan platform kami. Jadi kami punya platform sangat canggih, namanya Pokmaswas.org. Bisa melakukan pengecekan secara akurat menggunakan geotagging” ujarnya saat kegiatan Konservasi Bank Coral Yayasan Banyumilir, Senin, 28 September 2026.

Kegiatan Konservasi Bank Coral Yayasan Banyumilir, di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Senin, 28 September 2026. (Foto: RRI/Tika Utami)

Pengembangan sistem digital juga diharapkan mendukung pengelolaan aktivitas wisata bahari, khususnya wisata lumba-lumba di kawasan Lovina. Abdul Manap, yang membacakan sambutan Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, menyampaikan perlunya pengaturan jumlah pengunjung dan kelompok wisata pada lokasi serta waktu yang sama untuk mengurangi gangguan terhadap habitat lumba-lumba.

“Yang namanya dolphin itu, yang perlu diatur sebenarnya, jam yang sama atau waktu yang sama, tempat yang sama, itu harus diatur jumlah pengunjungnya atau jumlah grup-nya” ucapnya.

PLN UID Bali, melalui General Manager Imbar Susanto, turut mendukung kolaborasi konservasi yang melibatkan masyarakat dan berbagai pihak. Pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat diharapkan dapat memperkuat pengawasan serta mendorong pengelolaan wisata bahari yang lebih terkoordinasi.

“Kita sebagai umat, sebagai manusia punya tanggung jawab menjaga kesucian, perlestarian laut sebagai sumber kehidupan agar terjadi keseimbangan” katanya

Dengan dukungan teknologi digital dan kerja sama lintas sektor, pemantauan kawasan laut diharapkan semakin efektif sekaligus mendukung kelestarian ekosistem dan keberlanjutan wisata bahari di Buleleng.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....