Lebaran di Rantau, Harmoni dari Hening Nyepi hingga Hangatnya Silaturahmi
- 22 Mar 2026 15:39 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Silaturahmi
- Lebaran di Pulau Rantau
- Hari Raya Nyepi
- Hari Raya Idul Fitri
RRI.CO.ID, Singaraja - Perayaan Idulfitri di tanah rantau selalu menghadirkan nuansa yang berbeda. Tidak hanya karena jauh dari keluarga, tetapi juga karena pengalaman sosial dan budaya yang menyertainya. Hal ini terasa di Kabupaten Buleleng, Bali, saat momentum Nyepi dan Idulfitri berlangsung berdekatan.
Sehari sebelum Nyepi, tepatnya 18 Maret 2026, umat Hindu melaksanakan tradisi pengerupukan yang ditandai dengan pawai ogoh-ogoh. Tradisi ini menjadi simbol pembersihan diri dari energi negatif, ditampilkan melalui arak-arakan ogoh-ogoh yang diiringi gamelan dan antusiasme masyarakat. Suasana malam itu ramai dan penuh semangat, kontras dengan kondisi hening yang akan dijalani keesokan harinya.
Pada 19 Maret 2026, umat Hindu melaksanakan Hari Raya Nyepi yang berlangsung selama 24 jam, dimulai pukul 06.00 WITA hingga 20 Maret 2026 pukul 06.00 WITA. Selama periode tersebut, suasana Buleleng berada dalam kondisi hening total, tanpa aktivitas di ruang publik.
Seiring berakhirnya Nyepi, suasana perlahan berubah. Pada 20 Maret 2026, umat Muslim yang mengikuti penetapan Muhammadiyah melaksanakan Sholat Idulfitri di kawasan eks Pelabuhan Tua Buleleng sekitar pukul 07.00 WITA. Kawasan yang sebelumnya sunyi, dalam waktu singkat dipenuhi jamaah. Lantunan takbir menggema, menghadirkan suasana khidmat sekaligus penuh kebersamaan.
Memasuki malam harinya, gema takbir kembali menghidupkan Kota Singaraja. Pawai takbiran digelar dengan melibatkan umat Muslim dari berbagai masjid yang tergabung dalam kelompok masing-masing. Iringan takbir yang dikumandangkan sepanjang jalan menciptakan suasana religius yang semarak, sekaligus menjadi simbol syukur menyambut Hari Raya Idulfitri.
Keesokan harinya, 21 Maret 2026, umat Muslim yang mengikuti penetapan pemerintah melaksanakan Sholat Idulfitri di Taman Kota Singaraja. Ribuan jamaah tampak memadati area tersebut sejak pagi hari. Pelaksanaan Sholat Ied berlangsung tertib dan khusyuk, menjadi puncak perayaan setelah sebulan menjalani ibadah puasa Ramadan.
Bagi perantau, perayaan Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai ibadah, tetapi juga sebagai upaya membangun kedekatan sosial di lingkungan baru. Keterbatasan untuk berkumpul dengan keluarga di kampung halaman digantikan dengan silaturahmi bersama rekan kerja.
Salah satu perantau di Singaraja, Nabilah, mengaku merasakan pengalaman Lebaran yang berbeda tahun ini. Ia menuturkan, meskipun ada rasa sedih karena tidak bisa pulang ke kampung halaman, namun ada hal baru yang justru memberi kesan mendalam.
“Sedih pasti ada karena tidak bisa pulang, tapi di sini saya dapat pengalaman baru. Mulai dari melihat ogoh-ogoh seacara langsung itu seru banget, merasakan Nyepi bersama teman-teman kantor, sampai menyaksikan pawai gema takbir. Itu semua jadi pengalaman pertama yang berkesan buat saya,” kata Nabilah kepada RRI.
Usai pelaksanaan Sholat Ied, sejumlah perantau mengunjungi rumah rekan kerja untuk merayakan Lebaran secara sederhana. Hidangan khas seperti opor ayam dan ketupat tersaji di meja. Suasana berlangsung hangat, diiringi percakapan ringan, berbagi pengalaman, serta cerita tentang kerinduan terhadap keluarga.
Interaksi tersebut tidak hanya mempererat hubungan antarindividu, tetapi juga menghadirkan rasa kekeluargaan di tengah keterbatasan.
Lebaran di tanah rantau pada akhirnya tidak kehilangan maknanya. Justru, dalam rangkaian dari ramainya pawai ogoh-ogoh, heningnya Nyepi, semaraknya takbiran, hingga hangatnya silaturahmi Idulfitri, tersimpan nilai yang kuat tentang toleransi, kebersamaan, dan kemampuan beradaptasi di tengah keberagaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....