Luh Rusmiati Sulap Koran Bekas Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi Tinggi
- 04 Okt 2026 19:51 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja: - Tumpukan koran bekas yang bagi sebagian orang tidak lagi bernilai, justru menjadi peluang usaha bagi Luh Rusmiati. Perempuan asal Banjar Dinas Ceblong, Desa Sudaji, Buleleng, ini sejak 2016 mengolah kertas bekas menjadi berbagai kerajinan bernilai ekonomi.
Rusmiati mengawali usahanya secara mandiri setelah melihat tumpukan koran bekas di rumah saudaranya. Tanpa latar belakang pendidikan khusus di bidang kerajinan, ia mencoba mengolah kertas tersebut menjadi produk sederhana.
“Awalnya saya melihat tumpukan koran di rumah saudara. Saya ingin membuat keranjang untuk tempat air mineral,” ujar Rusmiati saat ditemui di galerinya, Jumat 2 Oktober 2026.
Keranjang yang dibuatnya ternyata menarik perhatian keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Dari permintaan sederhana tersebut, Rusmiati mulai mendapat pesanan berbagai produk, termasuk bokor dan kerajinan lainnya.
Usaha yang kemudian diberi nama Gegaen Lima Craft itu terus berkembang. Kini, Rusmiati menghasilkan beragam produk seperti anyaman, tempat pensil, nampan, tatakan gelas, gantungan kunci, hingga perabotan berupa meja dan kursi.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Rusmiati memanfaatkan berbagai jenis kertas. Koran bekas sebagian dibeli, sementara jenis kertas lainnya diperoleh dari donasi teman-temannya.
Menariknya, sebagian hubungan dengan penyumbang kertas dilakukan melalui sistem barter. Kertas bekas yang diberikan kemudian diolah menjadi kerajinan, lalu Rusmiati memberikan sebagian hasilnya kepada penyumbang, seperti tempat pensil maupun nampan berukuran kecil.
“Kalau koran biasanya saya beli. Kalau kertas-kertas lainnya banyak yang dapat dari donasi teman. Kadang saya barter, mereka memberikan kertas, kemudian saya kasih tempat pensil atau nampan kecil,” ucapnya.
Ketekunan tersebut membuat produk Gegaen Lima Craft tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar. Pada 2017, Rusmiati sempat bekerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar dan produknya berupa tatakan gelas serta nampan dibawa hingga ke Jepang dan Afrika.
Produk kerajinannya juga diminati wisatawan yang menginap di sejumlah homestay di sekitar tempat usahanya. Sebagian wisatawan membeli produk tersebut sebagai suvenir untuk dibawa pulang ke negara masing-masing.
Dari usaha tersebut, Rusmiati memperkirakan omzet yang diperoleh dapat mencapai sekitar Rp5 juta dalam satu bulan. Namun, jumlah tersebut tidak selalu sama karena menyesuaikan dengan pesanan dan kondisi penjualan.
Harga produk yang dihasilkan juga beragam. Gantungan kunci, misalnya, dijual mulai sekitar Rp5 ribu per buah, sedangkan produk berukuran lebih besar seperti meja dan kursi dijual dalam bentuk set dengan harga menyesuaikan jenis dan ukurannya.
Bagi Rusmiati, usaha tersebut bukan sekadar untuk memperoleh pendapatan. Ia berharap kerajinan berbahan kertas bekas dapat terus berkembang sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat di sekitarnya untuk ikut terlibat.
“Harapannya usaha ini terus berkembang. Saya juga berharap ada orang-orang di sekitar yang mau ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini, sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi orang-orang di sekitar,” katanya.
Upaya Rusmiati mengolah bahan bekas menjadi produk bernilai ekonomi juga mendapat dukungan melalui berbagai kesempatan mengikuti pameran dan promosi produk lokal. Di antaranya Lovina Festival, Buleleng Festival, serta sejumlah kegiatan di tingkat kecamatan.
Menurut Rusmiati, kesempatan mengikuti pameran membantu memperkenalkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperluas peluang pemasaran produk kerajinan yang dibuat dari bahan bekas.
Perbekel Desa Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan, mengapresiasi semangat pelaku UMKM di wilayahnya, termasuk Rusmiati yang mampu mengolah limbah kertas menjadi karya seni bernilai ekonomi.
“Pemerintah Desa Sudaji sangat mendukung dan mengapresiasi semangat UMKM kami. Salah satunya pengelolaan limbah kertas yang diolah menjadi sebuah karya seni yang nantinya bisa dipasarkan di seluruh Nusantara maupun dunia,” ujar Fajar.
Fajar mengatakan pemerintah desa juga berupaya membantu mengantisipasi berbagai kendala yang dihadapi pelaku UMKM, terutama terkait permodalan, pemasaran, dan kebutuhan pengembangan usaha.
Dukungan dilakukan melalui pemberian motivasi, pembinaan, serta membangun hubungan dengan berbagai pihak yang dapat membantu pengembangan UMKM di Desa Sudaji.
Ia berharap dukungan dari pemerintah dan stakeholder lainnya semakin kuat, sehingga para pelaku UMKM memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan produk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....