Bikin Edukasi Lingkungan Nggak Membosankan, Kreativitas Jadi Kunci

  • 02 Okt 2026 09:07 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Penyampaian pesan edukasi dan kampanye lingkungan kepada generasi muda membutuhkan strategi komunikasi yang sesuai dengan karakter media sosial. Informasi yang terlalu formal, panjang dan serius berpotensi membuat audiens melewati sebuah konten sebelum memahami pesan yang disampaikan. Karena itu, kreativitas dalam memilih format, bahasa dan tampilan menjadi bagian penting dalam membangun perhatian anak muda. Hal tersebut disampaikan Syaiful Huda, Koordinator Bidang Edukasi dan Kampanye Green Youth Bali, dalam obrolan SPADA RRI Pro 2 Singaraja, Jumat, 2 Oktober 2026.

Syaiful mengatakan, generasi muda saat ini memperoleh informasi dari berbagai platform, terutama Instagram dan TikTok. Tingginya jumlah konten yang beredar membuat pesan edukasi harus mampu bersaing untuk mendapatkan perhatian audiens. Salah satu tantangan terbesar adalah membuat konten dapat masuk ke perhatian pengguna di tengah kebiasaan menggulir media sosial dengan cepat. Karena itu, bagian awal video maupun judul menjadi penting untuk membangun ketertarikan. “Pastikan ketika kita memberikan informasi, ketika memberikan bimbingan, ketika kita menyampaikan ide-ide di video, kita menyampaikan dengan sangat kreatif dan juga tidak membosankan, tidak terlalu formal atau terlalu serius,” ujar Syaiful.

Menurutnya, gaya komunikasi yang santai dan dekat dengan keseharian anak muda dapat membantu audiens merasa lebih nyaman menerima pesan. Informasi yang disampaikan seperti percakapan dengan teman dinilai dapat membuat pengguna bertahan lebih lama untuk mengikuti isi konten. Namun, kreativitas tidak berarti menghilangkan substansi edukasi. Pesan tetap harus relevan dan memberikan solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah menyampaikan cara mengurangi sampah plastik dengan membawa tumbler ketika beraktivitas.

Selain menarik perhatian di awal, konsistensi menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran. Menurut Syaiful, kampanye yang hanya muncul satu atau dua kali akan lebih mudah dilupakan. Pesan perlu disampaikan secara berkelanjutan agar semakin sering diterima dan akhirnya melekat pada audiens. “Hook-nya itu harus menarik untuk mereka dengarkan. Dengan ketertarikan sebuah informasi di awal, mereka bisa mendengarkan sampai akhir. Pastikan juga kita konsisten dalam menyampaikan hal tersebut, enggak cuma sekali,” ucap Syaiful.

Pemanfaatan media sosial sebagai ruang edukasi juga perlu dibarengi dengan kemampuan menyaring informasi. Generasi muda tidak hanya diharapkan menjadi penerima pesan, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai penyebar informasi yang bermanfaat. Setiap orang memiliki pengetahuan yang dapat dibagikan melalui platform digital masing-masing. Dengan pendekatan kreatif, informasi yang relevan dan konsistensi penyampaian, media sosial dapat digunakan untuk membangun kesadaran lingkungan sekaligus mendorong masyarakat melakukan perubahan dari kebiasaan sederhana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....