Esensi Pawiwahan Hindu Perlu Tetap Jadi Prioritas Utama

  • 01 Okt 2026 15:20 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Perkembangan konsep pernikahan di tengah masyarakat membuat pasangan muda memiliki semakin banyak pilihan dalam mempersiapkan hari bahagia. Berbagai tren yang muncul melalui media sosial turut memengaruhi bentuk perayaan, termasuk penggunaan seserahan dalam pernikahan adat Bali. Namun, pasangan diingatkan untuk tetap menempatkan esensi pawiwahan sebagai prioritas utama. Hal tersebut disampaikan Wahyanti, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Buleleng, dalam obrolan SPADA RRI Singaraja.

Wahyanti menjelaskan, seserahan bukan bagian dari ritual inti maupun pakem yang menjadi syarat sahnya pawiwahan Hindu. Pemberian tersebut dapat dilakukan apabila pasangan menghendaki dan memiliki kemampuan secara finansial. Dalam praktiknya, seserahan dapat dimaknai sebagai bentuk penghargaan atau ungkapan kasih sayang dari pihak laki-laki kepada perempuan. Namun, makna tersebut tidak menjadikan seserahan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi setiap pasangan. “Yang paling utama dalam pawiwahan adalah pelaksanaan upacara sesuai ketentuan agama dan perkawinan itu juga tercatat secara negara,” ujar Wahyanti.

Menurutnya, pasangan muda perlu memahami bahwa pernikahan bukan hanya mengenai pelaksanaan acara dalam satu hari. Setelah upacara dan perayaan selesai, pasangan akan menjalani kehidupan rumah tangga yang membutuhkan kesiapan mental, komunikasi serta perencanaan ekonomi. Karena itu, berbagai keputusan dalam persiapan pernikahan perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pasangan. Keinginan mengikuti tren tidak seharusnya menggeser kebutuhan yang lebih penting untuk kehidupan setelah menikah.

Media sosial menjadi salah satu faktor yang turut membentuk gambaran mengenai pernikahan ideal di kalangan anak muda. Konten pernikahan yang menampilkan berbagai konsep dekorasi, busana hingga seserahan dapat menjadi inspirasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan keinginan untuk mengikuti apa yang sedang populer. Kondisi tersebut perlu disikapi dengan bijak agar pasangan tidak terjebak pada gengsi maupun ekspektasi lingkungan. “Jangan sampai kita menikah hanya mengejar kemeriahan satu hari, tetapi setelahnya justru kesulitan karena tidak mempersiapkan kehidupan rumah tangga,” ucap Wahyanti.

Untuk menghindari persoalan tersebut, komunikasi antara calon pasangan dan keluarga dinilai menjadi hal penting. Pembahasan mengenai konsep pernikahan, kebutuhan acara, kemampuan finansial serta bentuk pemberian seperti seserahan sebaiknya dilakukan sebelum mengambil keputusan. Kesepakatan bersama dapat membantu pasangan menentukan prioritas sekaligus mengurangi kemungkinan munculnya beban ekonomi setelah pernikahan. Keterbukaan sejak awal juga dapat mencegah perbedaan ekspektasi antara pasangan dan keluarga.

Wahyanti menegaskan bahwa perkembangan tradisi tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan perubahan zaman. Seserahan dapat tetap dilakukan selama ditempatkan sebagai bentuk penghargaan dan tidak dianggap sebagai kewajiban agama. Pasangan muda diharapkan mampu menyesuaikan tradisi dengan kondisi masing-masing tanpa menghilangkan tujuan utama pawiwahan. Dengan demikian, pernikahan tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi menjadi awal perjalanan membangun rumah tangga yang dipersiapkan secara matang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....