120 Peserta Ikuti Webinar Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

  • 21 Sep 2026 06:27 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Webinar edukasi pengelolaan sampah diselenggarakan secara daring pada 20 September 2026 di Singaraja sebagai respons terhadap urgensi pengendalian perubahan iklim dan keadilan sosial di Indonesia.
  • Acara ini berhasil menarik 120 peserta yang didominasi oleh mahasiswa dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam diskusi strategi pengelolaan sampah dari hulu hingir hilir.
  • Partisipasi dari berbagai stakeholder termasuk masyarakat umum, tenaga pendidik, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng menunjukkan komitmen multisektoral dalam mengatasi permasalahan sampah dan emisi metana.

RRI.CO.ID, Singaraja - Masalah pengelolaan sampah dan emisi gas metana kembali menjadi perhatian utama dalam upaya pengendalian perubahan iklim serta isu keadilan sosial di Indonesia. Mengangkat topik tersebut, sebuah webinar edukasi pengelolaan sampah diselenggarakan secara daring pada Minggu, 20 September 2026. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai strategi penanganan sampah dari hulu hingga hilir.

Kegiatan ini berhasil menarik perhatian dan diikuti oleh 120 orang peserta. Peserta webinar didominasi oleh mahasiswa dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang sangat antusias mengikuti alur diskusi. Selain mahasiswa, acara ini juga dihadiri oleh masyarakat umum, tenaga pendidik, hingga perwakilan instansi pemerintah seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng.

Sesi pertama menghadirkan Akhdan Azmi dari Dietplastik Indonesia yang membawakan materi bertajuk mitigasi gas metana di TPA. Ia menjelaskan bahwa sampah organik yang tertimbun di TPA secara anaerob dapat menghasilkan emisi gas metana yang berbahaya bagi iklim. Guna mengukur tingkat emisi tersebut secara akurat, Proyek MERIT mengombinasikan metode formal IPCC dengan pengukuran langsung di lapangan menggunakan alat Closed Flux Chamber (CFC) dan pemetaan drone.

Pada sesi kedua, Akademisi Geografi Undiksha, Putu Indra Christiawan, memaparkan realitas sosial yang timbul pasca rencana penutupan TPA. Penutupan TPA tanpa kesiapan fasilitas pemilahan di tingkat hulu berisiko merenggut mata pencaharian ribuan pemulung serta memicu pembuangan sampah liar di lingkungan permukiman. Sebagai alternatif praktis di tingkat rumah tangga, beliau mengenalkan inovasi teba modern yang mengadaptasi kearifan lokal Bali untuk mengolah sampah organik.

Secara keseluruhan, webinar ini menegaskan bahwa modernisasi teknologi seperti pembangunan PSEL harus diimbangi dengan kesiapan masyarakat. Penerapan konsep transisi berkeadilan sangat penting agar kebijakan penutupan TPA tidak merugikan kelompok masyarakat rentan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan tata kelola sampah yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....