Sampah Jadi Produk Bernilai, Living Lab Panji Dorong Ekonomi Sirkular

  • 20 Sep 2026 08:23 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh keberlanjutan tenaga pengelola di lapangan. Volume sampah yang terus bertambah membutuhkan tenaga untuk memilah dan mengolah, sementara minimnya nilai ekonomi dari sampah membuat sektor persampahan belum cukup menarik sebagai aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melalui program Living Lab Desa Adat Panji: Transformasi Pengelolaan Sampah Menuju Desa Berkelanjutan melalui Ekonomi Sirkular dan Inovasi Saintek mendorong sampah agar memiliki nilai tambah melalui proses pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali.

program Living Lab Desa Adat Panji: Transformasi Pengelolaan Sampah Menuju Desa Berkelanjutan melalui Ekonomi Sirkular dan Inovasi Saintek. (Foto: RRI/Riska Desiandra).

Program Living Lab Desa Adat Panji ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui pendanaan Program Bestari Saintek.

Salah satu praktiknya dilakukan bersama siswa kelas VI SD Lab Undiksha Singaraja di TPS 3R Bhuana Utama Berseri, Desa Panji pada Jumat 18 September 2026. Para siswa diajak mengolah tutup botol, mulai dari memilah berdasarkan warna, mencacah menggunakan mesin, membersihkan, memanaskan material menggunakan oven, hingga mengepresnya untuk kemudian dibentuk menjadi produk sesuai kebutuhan.

Salah seorang siswa, Aisya, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Aisyah, salah seorang siswa dalam kegiatan pengolahan sampah plastik.(Foto:RRI/Riska Desiandra).

“Saya antusias belajar mengelola sampah. Ke depannya, saya ingin bisa memilah dan mengolah sampah dengan baik agar lingkungan tetap bersih,” katanya.

Sementara itu, akademisi Undiksha sekaligus Ketua Pelaksana program, I Nyoman Laba Jayanta, mengatakan pengembangan ekonomi sirkular diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari material yang sebelumnya dibuang.

“Kita tidak ingin sampah berhenti sebagai sesuatu yang hanya diangkut dan dibuang. Melalui pengolahan, sampah dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan baku atau produk bernilai ekonomi, sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, semakin banyak material sampah yang dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali, semakin terbuka pula peluang untuk mengembangkan aktivitas ekonomi baru di tingkat masyarakat. Pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengumpulan dan pengangkutan, tetapi diarahkan hingga menghasilkan bahan atau produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

“Edukasi ini bertujuan agar masyarakat mampu mengenali dan mengolah sampah yang memiliki nilai ekonomi. Kami juga mendorong masyarakat untuk menggali peluang ekonomi baru, salah satunya melalui pengembangan paket edukasi pengelolaan sampah bagi siswa,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada penambahan tenaga untuk menangani volume sampah yang terus meningkat, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan aktivitas ekonomi melalui proses pemilahan, pengolahan, hingga menghasilkan produk bernilai.

Penanggung jawab TPS 3R Bhuana Utama Berseri, Mess, mengatakan program Living Lab membantu memperkuat praktik pengelolaan sampah yang telah berjalan di TPS 3R sekaligus membuka peluang pemanfaatan model bisnis dari hasil pengolahan sampah.

Penanggung jawab TPS 3R Bhuana Utama Berseri, Mess saat memberikan edukasi terkait penggunaan mesin pencacah sampah plastik. (Foto: RRI/Riska Desiandra).

“Kalau sampah memiliki nilai ekonomi, masyarakat akan memiliki alasan untuk memilah dan mengelolanya. Harapannya, dari proses ini bisa muncul peluang usaha sekaligus membuat pengelolaan sampah lebih berkelanjutan,” katanya.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, program Living Lab Desa Adat Panji tidak hanya menempatkan sampah sebagai persoalan yang harus diselesaikan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Sampah dipilah, diolah menjadi bahan atau produk baru, dimanfaatkan, dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, ekonomi sirkular diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi atas persoalan lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan pengelolaan sampah di tingkat desa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....