Empati Dinilai Penting Cegah Ruang Digital Toxic
- 31 Agt 2026 11:59 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Kemudahan memberikan komentar di media sosial dinilai perlu diimbangi dengan kemampuan memahami perasaan orang lain. Jarak antara pengguna media sosial dengan orang yang berada di balik layar sering membuat empati berkurang, sehingga komentar dapat disampaikan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kondisi tersebut menjadi perhatian Ayu Ika Natari, anggota KMHD Undiksha, saat mengisi Obrolan SPADA Senin, 31 Agustus 2026. Ayu mengatakan pengguna media sosial sering kali tidak melihat secara langsung respons orang yang menjadi sasaran komentar. Berbeda dengan komunikasi tatap muka, ekspresi maupun kondisi emosional seseorang tidak dapat terlihat secara langsung melalui layar. Situasi tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah memberikan komentar yang keras, menghakimi atau bahkan menyerang pribadi. “Ketika kita bertemu secara langsung tatap muka, ketika kita langsung melihat raut wajahnya yang sedih, itu bisa langsung kita rasakan juga kesedihannya,” ujar Ayu Ika Natari. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun empati ketika berinteraksi di ruang digital.
Ia menjelaskan, empati dapat dibangun dengan mengingat kembali nilai yang terdapat dalam ajaran Hindu, salah satunya Tat Twam Asi yang mengajarkan bahwa diri sendiri dan orang lain memiliki keterkaitan. Prinsip tersebut dapat menjadi landasan sebelum seseorang mengambil tindakan atau menyampaikan pendapat. Dengan menempatkan diri pada posisi orang lain, pengguna media sosial dapat mempertimbangkan apakah perkataan maupun tindakan yang dilakukan juga akan diterima dengan baik apabila dirinya berada di posisi yang sama. Empati juga menjadi penting ketika seseorang memberikan kritik karena kritik seharusnya tidak berubah menjadi tindakan menghakimi.
Menurut Ayu, setiap orang memiliki batas toleransi yang berbeda dalam menerima tekanan dan kritikan. Seseorang yang terlihat baik-baik saja di media sosial belum tentu tidak terdampak oleh komentar yang diterimanya. Karena itu, generasi muda perlu lebih berhati-hati ketika memberikan respons terhadap seseorang yang sedang menjadi sasaran serangan publik. Ketika melihat teman atau orang terdekat mendapat tekanan di media sosial, langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mendengarkan dan memberikan ruang untuk bercerita. “Ketika dia merasa punya teman untuk bercerita, itu bisa sedikit meringankan beban atau tekanan yang ia dapatkan dari ruang digital,” ucap Ayu Ika Natari.
Ia menilai hukum dan empati tidak seharusnya dipertentangkan dalam penggunaan media sosial. Keduanya perlu berjalan beriringan agar kebebasan berpendapat tetap memiliki batas yang bertanggung jawab. Pengetahuan mengenai aturan dapat membantu masyarakat memahami tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sedangkan empati membantu seseorang mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang lain. Generasi muda juga diharapkan tidak mudah terbawa viralitas atau ikut berkomentar hanya karena sebuah isu sedang ramai. Sebelum mengetik maupun membagikan informasi, pengguna media sosial perlu memastikan kebenarannya sekaligus mempertimbangkan perasaan dan hak orang lain. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi tempat bertukar gagasan tanpa berubah menjadi ruang yang penuh tekanan dan penghakiman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....