Pengomposan Jadi Metode Olah Sampah Organik Rumah Tangga yang Murah dan Cepat
- 31 Agt 2026 08:27 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Persoalan penumpukan sampah organik di kawasan perkotaan maupun perdesaan kini memiliki alternatif solusi yang tidak hanya efisien dan ramah lingkungan, tetapi juga sangat terjangkau bagi kantong masyarakat.
Akademisi dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., memperkenalkan inovasi metode pengomposan in-situ dengan memanfaatkan Tambahan Dekomposer Alami (TDA). Metode ini dirancang agar mudah diaplikasikan secara mandiri oleh masyarakat dalam skala rumah tangga.
Muliarta mengungkapkan bahwa pengembangan metode TDA in-situ dilatarbelakangi oleh fenomena keengganan masyarakat serta para petani untuk mengolah bahan buangan organik mereka sendiri. Selama ini, muncul anggapan umum bahwa proses pembuatan kompos merupakan pekerjaan yang rumit, membutuhkan waktu lama, berbiaya tinggi, serta memerlukan wadah komposter khusus dan cairan bioaktivator komersial buatan pabrik yang relatif mahal.
"Keengganan mengolah sampah organik selama ini bermula dari anggapan bahwa pengomposan itu padat karya dan mahal karena harus membeli aktivator buatan pabrik serta menyiap fasilitas khusus. Metode TDA in-situ ini saya kembangkan untuk mendobrak stigma tersebut. Saya ingin membuktikan bahwa pengomposan bisa dibuat sangat sederhana, mudah dipraktikkan, murah dari segi biaya, cepat proses degradasinya, dan menghasilkan produk kompos matang berkualitas tinggi," ujar Muliarta, Minggu 30 Agustus 2026 di Singaraja.
Salah satu pilar utama dari efisiensi inovasi ini terletak pada penggunaan dekomposer alami yang melimpah dan siap pakai di lingkungan sekitar. Muliarta menerangkan bahwa masyarakat tidak perlu lagi merogoh kocek untuk membeli agen pengurai komersial dalam botolan.
Menurutnya, alam telah menyediakan konsorsium mikroorganisme pengurai secara gratis dan melimpah. Dekomposer alami tersebut dapat diperoleh langsung dari tanah humus yang kaya mikroba lokal, kotoran ternak sapi atau unggas yang mempercepat proses kenaikan suhu dekomposisi, hingga kompos yang sudah matang sebagai inokulan alami.
"Berdasarkan kajian ilmiah, dekomposer lokal yang ada di alam memiliki keunggulan adaptasi lingkungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dekomposer komersial atau impor yang berasal dari luar daerah. Mikroba alami tanah dan kotoran ternak di sekitar kita sudah terbiasa bersimbiosis dan merombak bahan organik lokal secara alami, sehingga proses dekomposisi dapat berjalan jauh lebih optimal dan efisien," sebutnya.
Selain menekan pengeluaran untuk agen pengurai, metode TDA in-situ juga memberikan keluwesan pada sarana pengomposan dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di pemukiman. Muliarta menekankan bahwa masyarakat tidak perlu membeli tabung komposter khusus untuk mulai memilah dan mengolah sampah dapur mereka.
"Tempat pengomposan tidak perlu mahal. Kita bisa memanfaatkan barang bekas di rumah seperti kampil beras bekas atau karung goni yang memiliki sirkulasi udara alami sangat baik, ember plastik bekas cat yang diberi lubang aerasi di bagian bawah dan sisinya, hingga drum plastik atau gentong bekas untuk penampungan skala besar," tutur Muliarta memaparkan pilihan sarana pengomposan.
Secara teknis operasional, pengomposan metode TDA ini menerapkan sistem penumpukan berlapis yang sangat praktis. Sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran, kulit buah, dan dedaunan yang telah dipotong kecil-kecil dimasukkan ke dalam wadah pilihan. Setiap ketebalan tumpukan sampah tertentu kemudian dilapisi dengan dekomposer alami, baik berupa tanah humus maupun kotoran ternak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....