Kajeng Kliwon Tetap Relevan Bagi Generasi Muda
- 30 Agt 2026 13:47 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Kajeng Kliwon adalah hari pertemuan antara Tri Wara dan Panca Wara yang memiliki nilai spiritual penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali.
- Pemahaman mendalam terhadap makna tradisi Kajeng Kliwon menjadi kunci agar tradisi ini tetap relevan bagi generasi muda dan tidak sekadar dianggap rutinitas keagamaan.
- Nasihat orang tua mengenai Kajeng Kliwon yang berkembang di masyarakat terbukti bernilai dan tidak seluruhnya dapat dipandang sebagai mitos semata dalam konteks kehidupan zaman sekarang.
RRI.CO.ID, Singaraja - Perkembangan zaman dan teknologi digital tidak serta-merta membuat tradisi Kajeng Kliwon kehilangan relevansinya bagi generasi muda. Justru, pemahaman terhadap makna tradisi dinilai menjadi kunci agar Kajeng Kliwon tidak sekadar dijalankan sebagai rutinitas keagamaan, tetapi tetap memiliki nilai dalam kehidupan anak muda saat ini. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu, Komang Ari Warmita Udayana, saat mengisi Obrolan SPADA beberapa waktu lalu.
Komang Ari Warmita Udayana menjelaskan, Kajeng Kliwon merupakan hari pertemuan antara Tri Wara dan Panca Wara. Dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, hari tersebut memiliki nilai spiritual dan dikenal sebagai momentum yang baik untuk melakukan kegiatan keagamaan maupun refleksi diri. Menurutnya, berbagai nasihat orang tua mengenai Kajeng Kliwon yang selama ini berkembang di masyarakat tidak seluruhnya dapat dipandang hanya sebagai mitos. “Kalau dilihat di zaman sekarang ini dengan sistem gugon tuwon, orang tua kita terdahulu itu memang worth it banget,” ujar Komang Ari Warmita Udayana.
Ia mengatakan, sejumlah praktik dalam pelaksanaan Kajeng Kliwon memiliki dasar dalam literatur Hindu Bali, salah satunya Lontar Sundarigama. Dalam lontar tersebut dijelaskan mengenai pelaksanaan upacara dan persembahan pada Kajeng Kliwon. Namun, penerapannya dapat menyesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah melalui konsep desa, kala, patra. Karena itu, bentuk pelaksanaan Kajeng Kliwon di setiap wilayah tidak selalu sama. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari keberagaman tradisi yang berkembang di masyarakat Bali.
Menurutnya, generasi muda perlu memahami makna di balik setiap tradisi yang dijalankan. Pemahaman tersebut penting agar anak muda tidak hanya mengikuti kegiatan keagamaan karena kebiasaan keluarga, tetapi mengetahui tujuan dan nilai yang terkandung di dalamnya. “Alangkah lebih baik anak-anak muda Gen Z itu memahami Kajeng Kliwon ini dengan lebih sederhana dengan mungkin relevansinya itu lebih ke aktualisasi dalam kehidupan kita,” ucap Komang Ari Warmita Udayana. Ia menilai, cara tersebut dapat membuat tradisi tetap dekat dengan kehidupan generasi muda tanpa harus kehilangan nilai dasarnya.
Komang Ari Warmita Udayana menambahkan, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman. Pelestarian tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan bentuk pelaksanaan, tetapi juga dengan memahami nilai yang terkandung di dalamnya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kajeng Kliwon dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar mengenai pengendalian diri, etika dan kesadaran terhadap kehidupan. Dengan demikian, tradisi yang diwariskan leluhur tetap dapat berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....