Kritis di Media Sosial Harus Berujung Aksi Nyata

  • 30 Agt 2026 19:11 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Generasi muda dinilai tidak cukup hanya berani menyampaikan kritik melalui media sosial. Sikap kritis perlu diikuti kepedulian dan aksi nyata di lingkungan sekitar agar pendapat yang disampaikan tidak berhenti sebagai komentar di ruang digital. Hal tersebut disampaikan Dewa Ayu Made Kusuma Wijayanti saat mengisi program Obrolan SPADA beberapa waktu lalu.

Menurutnya, perkembangan teknologi memberikan ruang yang sangat luas bagi anak muda untuk menyampaikan pendapat mengenai berbagai persoalan, mulai dari isu sosial, politik, pendidikan hingga lingkungan. Namun, kemudahan tersebut juga membuat sebagian anak muda lebih nyaman menyampaikan kritik melalui media sosial dibandingkan terlibat langsung dalam persoalan yang terjadi di masyarakat. “Kritis anak muda di zaman sekarang itu hanya berani menyuarakan, memberikan saran, kritik, dan hanya menyalahkan situasi lingkungan tanpa mereka terjun langsung,” ujar Dewa Ayu Made Kusuma Wijayanti.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu bentuk sikap apatis yang masih ditemukan di kalangan generasi muda. Menurutnya, apatis dapat muncul ketika seseorang memilih tidak peduli terhadap persoalan di sekitarnya karena merasa akan ada orang lain yang menyelesaikan masalah tersebut. Sikap itu bahkan dapat terlihat dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan karena menganggap sudah ada pihak lain yang bertugas membersihkannya. Karena itu, kepedulian perlu dibangun mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.

Selain berani terjun langsung, anak muda juga perlu memiliki kemampuan menyaring informasi sebelum menyampaikan pendapat. Banyaknya informasi yang beredar melalui media sosial membuat generasi muda perlu memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. “Kita sebagai anak muda itu harus pintar-pintar menyaring informasi,” ucap Dewa Ayu Made Kusuma Wijayanti. Ia menilai kemampuan berpikir kritis penting agar anak muda tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak valid maupun hoaks.

Kepedulian tersebut dapat dimulai melalui tindakan sederhana, seperti mengikuti kegiatan sosial, bergabung dalam komunitas atau organisasi kepemudaan, serta terlibat dalam kegiatan di lingkungan sekitar. Menurutnya, organisasi juga dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk bertukar informasi dan pemikiran sekaligus belajar menyampaikan aspirasi. Dengan demikian, sikap kritis tidak hanya diwujudkan melalui keberanian berbicara, tetapi juga melalui kepedulian dan tindakan nyata. Generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan media sosial sebagai ruang menyampaikan gagasan, namun tetap hadir secara langsung ketika lingkungan membutuhkan kontribusi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....