Bank Pakan Ternak, Solusi Pangkas Biaya Pakan dan Atasi Sampah Organik

  • 26 Agt 2026 06:31 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Lonjakan harga konsentrat hingga Rp8.500 per kilogram menjadi tekanan serius bagi peternak domba dan kambing. Di sisi lain, jutaan ton sampah makanan masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), padahal sebagian besar masih memiliki nilai gizi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak.

Gagasan tersebut disampaikan Agus Santoso, mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM sekaligus peternak domba-kambing. Ia menawarkan konsep Bank Pakan Ternak berbasis ekonomi sirkular sebagai solusi yang menghubungkan persoalan mahalnya pakan dengan melimpahnya sampah organik.

Menurut Agus, kebutuhan konsentrat untuk seekor domba penggemukan mencapai sekitar 1,5 kilogram per hari. Dengan harga saat ini, biaya pakan menyentuh Rp12.750 per ekor setiap hari sehingga membuat titik impas usaha peternakan semakin lama tercapai.

“Kita sedang menghadapi dua krisis sekaligus, yaitu harga pakan yang terus naik dan sampah makanan yang terus menumpuk. Solusinya adalah mempertemukan keduanya melalui Bank Pakan Ternak,” ujarnya Selasa, 25 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, terdapat tiga sumber bahan baku yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Ketiganya meliputi produk industri makanan yang ditarik dari peredaran, sampah organik dari restoran dan rumah tangga, serta limbah industri pangan seperti ampas tahu, dedak, dan bekatul. Bahan-bahan tersebut dapat diolah menggunakan teknologi sederhana, mulai dari fermentasi silase hingga budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Hasil akhirnya berupa complete feed yang mengandung energi, protein, serat, serta vitamin dan mineral dengan biaya produksi jauh lebih rendah dibanding pakan pabrikan.

“Jika diramu dengan formulasi yang tepat, ketiga bahan itu menghasilkan pakan lengkap. Harganya bahkan bisa ditekan menjadi sekitar Rp1.800 hingga Rp3.500 per kilogram,” katanya.

Agus menilai koperasi menjadi lembaga yang paling tepat mengelola Bank Pakan karena mampu menghimpun bahan baku dalam jumlah besar sekaligus menyalurkan pakan kepada anggota dengan harga pokok produksi. Model ini dinilai lebih efisien dibanding peternak bekerja sendiri-sendiri.

Perhitungannya, kelompok peternak dengan 100 ekor domba membutuhkan sekitar 300 kilogram pakan per hari. Dengan HPP Rp2.000 per kilogram, biaya pakan bulanan berkisar Rp15,6 juta, jauh lebih rendah dibanding penggunaan konsentrat pabrikan yang dapat mencapai Rp54,6 juta.

“Koperasi bukan hanya membeli dan mengolah bahan baku, tetapi juga menjaga mutu pakan melalui formulasi dan pengujian. Penghematan puluhan juta rupiah setiap bulan bisa menjadi modal untuk memperbesar usaha peternak,” ucapnya. Selain memberi dampak ekonomi, konsep ini juga dinilai mendukung pengurangan sampah organik dan emisi gas metana dari TPA. Agus mendorong pemerintah daerah, perguruan tinggi, BAZNAS, serta sektor swasta membangun Bank Pakan Percontohan di setiap kecamatan agar model tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....