Kemenag Buleleng Jadikan Maulid Nabi Momentum Penguatan Karakter Siswa
- 25 Agt 2026 18:50 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Kementerian Agama Kabupaten Buleleng mendorong peringatan Maulid Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam menjadi momentum penguatan pendidikan karakter bagi siswa. Peringatan Maulid tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga sebagai kesempatan menghadirkan kembali nilai-nilai keteladanan Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut dinilai relevan untuk membentuk generasi yang cerdas secara akademik sekaligus kuat secara moral dan spiritual.
Kepala Seksi Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Haji Lewa Karma, M.Pd., mengatakan, nilai-nilai kenabian sangat penting diterapkan dalam lingkungan pendidikan, terlebih Buleleng memiliki masyarakat yang beragam. Menurutnya, Maulid Nabi dapat menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk memahami akhlak, toleransi, persaudaraan, kejujuran, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap perbedaan. "Kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam bukan sekadar kegiatan untuk mengenang lahirnya Rasulullah, tetapi juga sebagai momentum menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian untuk diterapkan dalam kehidupan murid-murid kita," ujarnya pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Ia menegaskan, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang unggul dalam bidang akademik. Pendidikan juga harus mampu melahirkan generasi dengan karakter kuat, mampu menghargai orang lain, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial. Karena itu, peringatan Maulid Nabi dinilai dapat mempertemukan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan moral dan spiritual. "Pendidikan tidak cukup hanya untuk menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi pendidikan harus melahirkan generasi yang memiliki karakter yang kuat, mampu menghargai orang lain dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial," katanya.
Nilai keteladanan Rasulullah yang dapat diterapkan siswa antara lain kejujuran, amanah, kasih sayang, tanggung jawab, kesabaran, dan penghormatan kepada sesama. Nilai tersebut juga sejalan dengan konsep Panca Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama, meliputi cinta kepada Allah dan Rasulullah, cinta ilmu pengetahuan, cinta kepada sesama dan diri sendiri, cinta lingkungan, serta cinta tanah air. "Segala hal yang bermuatan dengan Panca Cinta itu bermuara kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan dari sana nilai-nilai lainnya dapat diterapkan dalam kehidupan anak-anak kita," ucapnya.
Menurutnya, sifat Rasulullah sebagai Al-Amin atau sosok yang dapat dipercaya juga sangat relevan dengan kehidupan pelajar saat ini. Nilai tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk mencegah berbagai persoalan di lingkungan pendidikan, seperti perundungan, kekerasan, penyebaran hoaks, hingga perilaku negatif di media sosial. "Sehingga di kelas, di sekolah, madrasah tidak ada lagi cyber bullying, tidak ada lagi hoaks, tidak ada lagi kekerasan-kekerasan dan perbuatan-perbuatan yang tidak menyenangkan," ujarnya.
Kemenag Buleleng juga menekankan agar peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada ceramah maupun kegiatan seremonial. Kisah kehidupan Rasulullah harus diterjemahkan menjadi kebiasaan nyata di sekolah, madrasah, rumah, dan lingkungan masyarakat. "Maulid harus ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter, bukan berhenti pada ceramah dan perayaan saja. Kisah kehidupan Rasulullah tidak untuk hanya dibacakan atau dilihat, tetapi untuk dipraktikkan dan diterjemahkan dalam kehidupan," katanya.
Implementasi keteladanan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pembiasaan sederhana di lingkungan pendidikan. Gerakan menjaga kebersihan, saling menghormati, gotong royong, saling menolong, pembiasaan doa, salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, serta pembinaan kedisiplinan menjadi bagian dari upaya membangun karakter siswa. Kemenag menilai keberhasilan peringatan Maulid bukan semata-mata dilihat dari kemeriahan kegiatan, tetapi dari perubahan perilaku siswa setelah kegiatan berlangsung.
Peran guru juga dinilai sangat penting dalam memastikan nilai keteladanan Rasulullah benar-benar diterapkan oleh siswa. Guru Pendidikan Agama Islam tidak hanya berperan menyampaikan materi, tetapi juga harus menjadi contoh dalam kejujuran, kasih sayang, empati, disiplin, dan tanggung jawab. "Guru bukan hanya penyampai kisah, tetapi juga harus menjadi contoh. Dalam pendidikan karakter, keteladanan guru sering kali lebih kuat dari sekadar nasihat," ucapnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial, siswa juga perlu dibekali literasi digital yang disertai etika. Sebelum membagikan informasi, siswa didorong untuk memastikan kebenaran, manfaat, dan dampak dari konten yang akan disebarkan dengan menerapkan prinsip tabayun. "Sebelum mengunggah atau membagikan suatu konten, siswa harus memiliki kebiasaan untuk meneliti, membaca, dan memahami terlebih dahulu. Jadi harus disaring dulu sebelum di-sharing," ujarnya.
Kemenag Buleleng berharap nilai-nilai Maulid Nabi dapat menjadi bagian dari budaya sekolah dan madrasah secara berkelanjutan. Pembentukan karakter juga perlu melibatkan orang tua sehingga pembiasaan yang dilakukan di sekolah dapat diterapkan secara konsisten di rumah. "Jadikanlah keteladanan Rasulullah sebagai bagian dari budaya sekolah, dengan program kebiasaan yang terukur seperti gerakan kejujuran, empati, kebersihan, literasi Al-Qur'an dan etika digital, serta melibatkan orang tua dalam pembentukan karakter," katanya.
Kemenag Buleleng pada akhirnya berharap peringatan Maulid Nabi mampu melahirkan generasi yang unggul secara akademik sekaligus memiliki akhlakul karimah. Pendidikan karakter diharapkan memperkuat integritas, kepedulian sosial, toleransi, kemampuan hidup berdampingan, serta tanggung jawab siswa terhadap bangsa dan lingkungan. "Keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari seberapa besar pengetahuan yang dikuasai, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut membentuk perilaku. Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk mengubah perilaku kita dan menjadikan keteladanan Rasulullah dari sekadar materi pelajaran menjadi akhlak yang dipraktikkan," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....