Aktivis Desak Plataran Ubud Beralih ke Telur Bebas Kandang
- 12 Agt 2026 16:10 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Gianyar - Isu kesejahteraan hewan mulai mendapat perhatian lebih besar dalam rantai pasok industri hospitality. Di tengah tren perusahaan perhotelan global yang mulai mengadopsi kebijakan telur bebas kandang atau cage-free, sejumlah aktivis dan konsumen mempertanyakan langkah Plataran Group terkait penggunaan telur dari sistem peternakan tersebut.
Pertanyaan itu disampaikan melalui aksi damai di depan Plataran Ubud, Bali, Senin, 10 Agustus 2026. Sebanyak 10 aktivis menggunakan 10 sepeda motor membawa petisi sebagai bentuk dorongan agar Plataran mengambil komitmen penggunaan telur bebas kandang.
Aksi tersebut tidak berhenti di lokasi. Pesan mengenai pentingnya kesejahteraan ayam petelur rencananya akan terus dibawa berkeliling Bali selama sebulan di sekitar area properti Plataran, sebagai bagian dari kampanye untuk mendorong perhatian terhadap praktik peternakan dalam rantai pasok industri hospitality.
Plataran sendiri merupakan grup usaha perhotelan yang mengelola berbagai bisnis, mulai dari hotel, resor, tempat acara, restoran, properti, kapal pesiar pribadi hingga operator taman nasional. Perusahaan tersebut memiliki jaringan di 81 lokasi di Indonesia dan Jepang. Dengan skala usaha tersebut, aktivis menilai kebijakan rantai pasok Plataran dapat menjadi bagian penting dalam mendorong praktik bisnis yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.
Desakan itu juga berkaitan dengan kondisi industri telur di Indonesia yang hingga kini masih banyak menggunakan sistem kandang sempit. Dalam sistem tersebut, ayam petelur dikurung sepanjang siklus produksi yang disebut mencapai sekitar 63 minggu, dengan ruang gerak yang dinilai sangat terbatas sehingga ayam kesulitan melakukan perilaku alaminya seperti merentangkan sayap, bersarang, mandi debu, bertengger dan bersosialisasi.
Selain persoalan kesejahteraan hewan, aktivis turut mengaitkan sistem produksi telur dengan aspek keamanan pangan. Laporan Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) tahun 2019 disebut menyimpulkan bahwa sistem kandang sempit memiliki prevalensi Salmonella lebih tinggi dibandingkan sistem cage-free. Sementara penelitian Universitas Gadjah Mada menemukan Salmonella yang resisten terhadap antibiotik pada telur supermarket yang berasal dari sistem kandang.
Pemimpin Kampanye Act for Farmed Animals, Elfha Shavira, mengatakan pihaknya telah membuka komunikasi dengan Plataran sejak 2024. Berbagai dialog dan audiensi dengan pemangku kepentingan Plataran, termasuk dorongan yang dilakukan di Jakarta, menurutnya belum menghasilkan kejelasan mengenai kebijakan telur bebas kandang.
"Kami sudah menghubungi Plataran sejak 2024. Oleh karena itu, kami berharap audiensi yang telah kami lakukan bersama para pemangku kepentingan Plataran di kantor pusat mereka, disertai berbagai dorongan di Jakarta, dapat menghasilkan keputusan positif. Namun, hingga kini belum ada kemajuan terkait kebijakan telur bebas kandang mereka," ujarnya.
Elfha mengatakan pihaknya tetap melihat peluang bagi Plataran untuk mengambil langkah konkret. Menurut dia, komunikasi yang telah berlangsung selama dua tahun seharusnya dapat dilanjutkan dengan kebijakan yang lebih jelas terkait standar kesejahteraan hewan dalam rantai pasok.
“Kami yakin Plataran bisa melakukan langkah konkret terkait penggunaan telur bebas kandang (cage-free). Namun, sejak 2024 kami membuka komunikasi dan banyak dialog, kami belum melihat kejelasan dan langkah nyata untuk memastikan kesejahteraan ayam menjadi bagian dari standar rantai pasoknya,” ucapnya.
Ia juga menilai posisi Plataran yang memiliki jaringan usaha di Indonesia dan Jepang serta melayani pasar internasional menjadi alasan penting bagi perusahaan untuk mengikuti perkembangan kebijakan cage-free. Menurutnya, terdapat 110 perusahaan di Indonesia yang telah menyatakan komitmen terhadap telur bebas kandang.
“Sebagai grup bisnis di Indonesia dan Jepang yang melayani pasar internasional, Plataran sudah sepatutnya memperhatikan aspek etis ini. Tren cage-free di pasar global sudah tak terelakkan, dan 110 perusahaan di Indonesia pun telah berkomitmen. Plataran mengusung citra ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang seharusnya juga mencakup kesejahteraan hewan serta kesehatan masyarakat. Sudah saatnya Plataran menyelaraskan langkah dengan merilis komitmen bebas kandang,” katanya.
Dorongan terhadap kebijakan tersebut juga diperkuat oleh kajian mengenai preferensi konsumen. Studi Pusat Kesejahteraan dan Etika Hewan, Sekolah Ilmu Kedokteran Hewan, Universitas Queensland, menunjukkan bahwa sistem peternakan menjadi salah satu faktor penting dalam pilihan konsumen terhadap telur, setelah faktor harga. Kajian itu juga menyebut kesejahteraan hewan dapat mendorong masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan dan perawatan hewan.
Melalui aksi dan kampanye yang dilakukan selama sebulan di Bali, para aktivis berharap Plataran memberikan respons konkret terhadap tuntutan tersebut. Mereka mendorong adanya komitmen penggunaan telur bebas kandang sebagai bagian dari standar rantai pasok yang dinilai lebih etis, bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....