Bijak Bermedia Sosial Kunci Menjaga Jati Diri Generasi Muda Indonesia

  • 03 Agt 2026 08:47 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Kemajuan teknologi dan pesatnya perkembangan media sosial membawa perubahan besar terhadap pola pikir dan gaya hidup generasi muda. Berbagai tren yang muncul setiap hari membuat banyak anak muda terdorong untuk selalu mengikuti perkembangan agar tidak dianggap tertinggal. Namun, apabila tidak disikapi secara bijak, fenomena tersebut berpotensi mengikis jati diri dan menggeser nilai-nilai keindonesiaan yang selama ini menjadi identitas bangsa. Hal itu disampaikan Anggota KNPI Buleleng, Wahyu, saat menjadi narasumber dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja, Senin, 3 Agustus 2026. Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan tetap mampu mempertahankan karakter diri di tengah derasnya arus informasi digital.

Wahyu menjelaskan salah satu dampak yang dapat muncul akibat FOMO adalah hilangnya identitas diri karena seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Bahkan, menurutnya, fenomena tersebut dapat berkembang menjadi ketakutan mengambil keputusan akibat terlalu banyak pilihan yang tersedia di media sosial. Kondisi itu berpotensi membuat generasi muda kehilangan fokus terhadap tujuan hidupnya. "Kalau terus mengikuti FOMO, seseorang bisa kehilangan jati dirinya karena terlalu sibuk mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Padahal setiap orang memiliki kemampuan dan proses hidup yang berbeda," ujar Wahyu. Ia juga mengingatkan agar anak muda tidak memaksakan diri mengikuti gaya hidup yang berada di luar kemampuan hanya demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Selain FOMO, budaya flexing juga dinilai perlu disikapi secara bijak. Menurut Wahyu, tidak semua unggahan mengenai pencapaian seseorang dapat dikategorikan sebagai bentuk pamer. Apabila sebuah konten mampu memberikan inspirasi dan memperlihatkan proses perjuangan di balik keberhasilan, hal tersebut justru dapat memotivasi generasi muda untuk berkembang. Sebaliknya, flexing menjadi negatif ketika dilakukan hanya untuk mencari validasi atau memancing pengakuan dari orang lain. "Yang berbahaya bukan hanya orang yang melakukan flexing, tetapi juga orang yang melihatnya jika tidak memiliki pendirian yang kuat. Karena itu, kita harus bijak dalam menyaring apa yang kita konsumsi di media sosial," ucap Wahyu. Ia menambahkan bahwa kemampuan mengendalikan diri menjadi bekal penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial di dunia digital.

Di tengah perubahan tersebut, Wahyu menilai nilai-nilai keindonesiaan seperti gotong royong, saling menghargai, toleransi, dan hidup sederhana tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyebarkan inspirasi, membangun prestasi, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama, bukan sekadar mengejar pengakuan. "Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan pernah melupakan jati diri. Bijaklah bermedia sosial dan tetap pegang nilai-nilai keindonesiaan dalam setiap tindakan maupun unggahan kita," kata Wahyu. Ia berharap generasi muda mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana berkembang tanpa kehilangan karakter, sehingga media sosial menjadi ruang yang sehat untuk bertumbuh, berkarya, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....