FOMO & Flexing Menguji Nilai Keindonesiaan Generasi Muda Masa Kini

  • 03 Agt 2026 08:48 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Fenomena fear of missing out (FOMO) dan budaya flexing semakin akrab dengan kehidupan generasi muda di era digital. Kemudahan mengakses media sosial membuat anak muda kerap membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih mapan, atau lebih mengikuti tren. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung bagaimana seseorang menyikapinya. Hal itu disampaikan Anggota KNPI Buleleng, Wahyu Cupu Febrian, saat menjadi narasumber dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja, Senin, 3 Agustus 2026. Menurutnya, FOMO dan flexing tidak selalu identik dengan hal buruk, selama masih mampu memberikan motivasi dan tidak membuat seseorang kehilangan jati dirinya.

Wahyu menjelaskan FOMO merupakan rasa takut tertinggal informasi maupun tren yang berkembang di masyarakat, sedangkan flexing lebih mengarah pada upaya menunjukkan pencapaian atau sesuatu yang dimiliki kepada orang lain. Menurutnya, media sosial menjadi faktor yang sangat memengaruhi munculnya dua fenomena tersebut karena banyak anak muda menjadikan kehidupan orang lain sebagai tolok ukur untuk menilai dirinya sendiri. "FOMO dan flexing sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup anak muda sekarang. Ada sisi positif dan negatifnya, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya," ujar Wahyu. Ia menilai konten yang dibagikan di media sosial dapat menjadi inspirasi apabila mampu memotivasi orang lain untuk berkembang. Namun, kondisi tersebut akan menjadi masalah ketika seseorang memaksakan diri hanya demi terlihat mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan budaya FOMO sebenarnya masih dapat selaras dengan nilai-nilai keindonesiaan apabila diarahkan pada hal-hal positif. Sebagai contoh, tren mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan atau aksi sosial di media digital dapat mendorong generasi muda untuk memperkuat semangat gotong royong. Sebaliknya, apabila FOMO membuat seseorang membeli barang di luar kemampuan atau terus membandingkan diri dengan orang lain, dampaknya justru akan merugikan diri sendiri. "Media sosial itu hanya alat. Yang menentukan dampaknya tetap cara pandang dan cara kita menggunakannya," ucap Wahyu. Ia menegaskan generasi muda perlu memiliki kemampuan menyaring informasi sehingga tidak mudah terpengaruh oleh gaya hidup yang bertentangan dengan kondisi maupun nilai yang diyakini.

Menurut Wahyu, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan menjaga identitas diri di tengah derasnya arus informasi digital. Ia mengajak anak muda untuk tetap mengedepankan nilai gotong royong, saling menghargai, dan hidup sederhana sebagai bagian dari karakter bangsa Indonesia. "Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri. Bijaklah menggunakan media sosial agar nilai-nilai keindonesiaan tetap diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," kata Wahyu. Ia berharap media sosial tidak hanya menjadi ruang untuk mengejar validasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana berbagi inspirasi, memperluas wawasan, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....