Kakao Fermentasi Jembrana Tarik Perhatian Uni Eropa
- 31 Jul 2026 13:27 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Negara – Komitmen Kabupaten Jembrana dalam mengembangkan kakao fermentasi berkelanjutan mendapat perhatian dari berbagai mitra internasional, termasuk Uni Eropa. Hal itu terlihat dalam kegiatan Media Trip Program ACT (Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia) bertajuk "Dari Sumber Biji Hingga Produk: Menjelajah Praktik Kakao Berkelanjutan", yang digelar di Jembrana, Kamis 30 Juli 2026.
Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di sektor kakao, mulai dari perwakilan Uni Eropa, Rainforest Alliance, Cocoa Sustainability Partnership (CSP), Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), Rikolto Indonesia, Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS), Yayasan Kalimajari, Pipiltin Cocoa, hingga jurnalis dari sejumlah media nasional dan lokal.
Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan mengatakan, dipilihnya Jembrana sebagai lokasi kegiatan menjadi pengakuan terhadap upaya daerah dalam membangun industri kakao yang berorientasi pada kualitas sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, pengembangan kakao fermentasi telah menjadi program unggulan daerah sejak 2011. Hasilnya, biji kakao fermentasi produksi Koperasi KSS mampu menembus pasar internasional sejak 2015 dan kini memasok kebutuhan 15 merek cokelat di dalam maupun luar negeri, termasuk menjalin kemitraan dengan Pipiltin Cocoa sejak 2016.
"Kakao fermentasi Jembrana merupakan bukti bahwa kualitas yang dijaga secara konsisten mampu membuka akses ke pasar global. Capaian ini lahir dari kerja keras petani, koperasi, dan seluruh pihak yang terus menjaga standar mutu," ujar Bupati.
Ia mengakui perjalanan tersebut tidak mudah. Pada tahap awal, tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir petani agar bersedia menerapkan proses fermentasi serta mempertahankan sistem budidaya ramah lingkungan melalui pola agroforestri atau tumpang sari.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan sektor kakao, Pemerintah Kabupaten Jembrana telah menjalankan berbagai program, di antaranya penyaluran bibit unggul dan sarana produksi bagi kelompok tani, penguatan permodalan Koperasi KSS melalui pinjaman daerah yang meningkat dari Rp200 juta pada 2016 menjadi Rp1,5 miliar pada 2025, hingga penerbitan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao yang mewajibkan proses fermentasi sebagai standar mutu.
Selain itu, pemerintah juga menggencarkan gerakan penanaman pohon kakao di lingkungan sekolah dan perkantoran sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya bertani kakao di Jembrana.
Bupati juga mengajak media untuk turut menyampaikan kisah para petani yang konsisten menjaga kualitas produksi sekaligus menerapkan praktik pertanian berkelanjutan.
"Kolaborasi menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem kakao berkelanjutan. Kami berharap sinergi bersama Uni Eropa, Rainforest Alliance, CSP, SCOPI, Rikolto, Pipiltin Cocoa, dan berbagai pihak lainnya terus memperkuat posisi Jembrana sebagai daerah penghasil kakao berkualitas," katanya.
Sementara itu, Program Officer Uni Eropa, Novita Sari, mengapresiasi langkah yang dilakukan Kabupaten Jembrana dalam mengembangkan sektor kakao secara berkelanjutan.
Ia menilai Jembrana berhasil menunjukkan bahwa praktik keberlanjutan dapat diterapkan mulai dari tingkat petani hingga produk yang diterima konsumen, sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan masa depan yang lebih baik bagi industri kakao.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....