Baju Bekas Bernilai, Thrifting Dorong Gaya Hidup Lebih Berkelanjutan Ramah

  • 31 Jul 2026 08:49 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Pakaian yang sudah tidak digunakan tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan sampah. Di balik setiap baju bekas masih terdapat nilai manfaat, baik untuk membantu sesama maupun mengurangi limbah tekstil yang terus meningkat. Karena itu, masyarakat didorong untuk mulai memanfaatkan pakaian bekas melalui donasi, penjualan kembali, maupun upcycling agar memiliki fungsi baru. Hal tersebut disampaikan Umbara dan Dwipayani dari Paguyuban Green Youth Bali dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja, Jumat, 31 Juli 2026. Menurut keduanya, perubahan cara pandang terhadap pakaian bekas menjadi salah satu langkah penting untuk membangun gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Umbara menjelaskan pakaian yang masih layak pakai sebaiknya dipilah sebelum diputuskan untuk dibuang. Menurutnya, banyak pakaian yang masih memiliki kualitas baik dan dapat dimanfaatkan oleh orang lain melalui kegiatan donasi maupun penjualan kembali. Selain membantu mengurangi limbah tekstil, cara tersebut juga membuat pakaian tetap memiliki nilai ekonomi. "Kalau pakaiannya masih bagus, lebih baik didonasikan atau dijual kembali. Selain bermanfaat bagi orang lain, pakaian itu juga tetap memiliki nilai guna dan tidak langsung menjadi sampah," ujar Umbara. Ia menilai semakin banyak masyarakat yang menerapkan kebiasaan tersebut, semakin kecil pula jumlah limbah pakaian yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Selain didonasikan atau dijual kembali, pakaian bekas juga dapat diolah menjadi berbagai produk baru melalui proses upcycling. Dwipayani mengatakan kreativitas menjadi kunci agar limbah tekstil dapat memiliki kehidupan kedua. Celana jeans bekas, misalnya, dapat diubah menjadi pouch, tas belanja, hingga berbagai produk kerajinan lainnya. "Pakaian yang sudah tidak digunakan masih bisa diubah menjadi barang yang memiliki nilai pakai dan nilai jual. Jadi, jangan langsung menganggap pakaian bekas tidak berguna," ucap Dwipayani. Ia menambahkan, Paguyuban Green Youth Bali juga rutin mengenalkan konsep tersebut kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi dan bahkan memanfaatkan pakaian bekas sebagai bagian dari karya dalam sejumlah fashion show.

Fenomena thrifting yang semakin populer di kalangan anak muda juga dinilai menjadi salah satu alternatif untuk memperpanjang usia pakaian. Namun, Umbara mengingatkan bahwa thrifting hanya akan memberikan manfaat apabila dilakukan secara bijak. Membeli pakaian bekas secara berlebihan hanya karena harga lebih murah tetap berpotensi melahirkan perilaku konsumtif yang sama seperti fast fashion. "Thrifting memang menjadi salah satu solusi karena pakaian bisa digunakan kembali oleh orang lain. Tetapi, belilah secukupnya agar tidak berubah menjadi kebiasaan konsumtif," kata Umbara. Ia juga menilai masih adanya rasa gengsi terhadap pakaian bekas perlu diubah karena nilai sebuah pakaian tidak ditentukan dari status baru atau bekas, melainkan dari manfaat yang masih dapat diberikan.

Menutup perbincangan, Dwipayani menegaskan bahwa upaya mengurangi limbah pakaian bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pelaku industri fashion, melainkan seluruh lapisan masyarakat. "Semua memiliki tanggung jawab, mulai dari konsumen, pelaku usaha hingga pemerintah. Kalau kita bergerak bersama, limbah tekstil pasti bisa dikurangi," ujar Dwipayani. Sementara itu, Umbara mengajak masyarakat untuk mulai melihat pakaian bekas sebagai sumber manfaat, bukan sekadar barang yang telah habis masa pakainya. Melalui kebiasaan mendonasikan, menjual kembali, atau mengolah pakaian bekas menjadi produk baru, masyarakat tidak hanya membantu mengurangi limbah tekstil, tetapi juga ikut membangun budaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....