Bijak Membeli Pakaian Ciptakan Lingkungan Bersih Berkelanjutan sejak Sekarang

  • 31 Jul 2026 08:45 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Mengurangi limbah pakaian tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sederhana seperti membeli pakaian sesuai kebutuhan, merawat pakaian agar lebih awet, hingga mengolah pakaian bekas menjadi barang yang bermanfaat dinilai mampu memberikan dampak besar bagi lingkungan. Pesan tersebut disampaikan Umbara dan Dwipayani dari Paguyuban Green Youth Bali saat menjadi narasumber dalam Obrolan SPADA di RRI Singaraja, Jumat, 31 Juli 2026. Keduanya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai mengubah pola konsumsi agar persoalan limbah tekstil yang terus meningkat dapat ditekan dari lingkungan keluarga maupun komunitas.

Umbara menjelaskan langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pola pikir terhadap pakaian yang sudah dimiliki. Menurutnya, banyak orang merasa tidak memiliki pakaian setiap kali melihat tren baru di media sosial, padahal lemari mereka masih dipenuhi pakaian yang layak digunakan. "Jangan menganggap kita tidak punya pakaian. Kalau kita sudah merasa pakaian yang kita miliki cukup, keinginan membeli baju baru akan berkurang sehingga limbah tekstil juga bisa ditekan," ujar Umbara. Ia menambahkan, setelah itu masyarakat dapat mulai memilah pakaian yang masih layak dipakai, didonasikan, dijual kembali, maupun diolah menjadi produk baru agar masa pakainya menjadi lebih panjang.

Selain mengurangi kebiasaan membeli pakaian, masyarakat juga didorong untuk lebih merawat pakaian yang telah dimiliki. Dwipayani mengatakan umur pakaian dapat diperpanjang melalui perawatan sederhana sehingga tidak mudah rusak dan tidak cepat menjadi sampah. "Pakaian yang paling ramah lingkungan adalah pakaian yang sudah kita miliki di lemari. Karena itu, rawatlah agar bisa digunakan lebih lama," ucap Dwipayani. Ia menilai perubahan kecil tersebut jika dilakukan oleh banyak orang akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan limbah tekstil sekaligus menekan budaya konsumtif yang berkembang di kalangan generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Umbara juga menanggapi pertanyaan pendengar mengenai kebiasaan membeli pakaian baru untuk kebutuhan pekerjaan maupun pembuatan konten di media sosial. Menurutnya, membeli pakaian baru tetap diperbolehkan selama dilakukan secara bijak dan sesuai kebutuhan. "Yang terpenting bukan seberapa sering membeli pakaian, tetapi bagaimana kita mengelolanya agar tetap memiliki nilai guna dan tidak hanya menumpuk menjadi limbah," kata Umbara. Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan membeli pakaian bekas melalui thrifting tetap harus dilakukan secara bijak agar tidak berubah menjadi perilaku konsumtif yang sama seperti fast fashion.

Menutup perbincangan, kedua narasumber sepakat bahwa upaya mengurangi limbah pakaian membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari masyarakat, pelaku usaha, hingga pemerintah. Namun, perubahan terbesar tetap dimulai dari keputusan setiap individu dalam menggunakan dan membeli pakaian. "Perubahan besar tidak lahir dari tindakan yang besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari," ujar Dwipayani. Sementara itu, Umbara mengajak masyarakat untuk berhenti membeli pakaian hanya karena takut ketinggalan tren dan mulai mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan. Dengan kebiasaan sederhana tersebut, limbah tekstil diharapkan dapat terus berkurang sehingga lingkungan menjadi lebih bersih dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....