Anak Muda Diajak Wujudkan Kepedulian lewat Aksi Nyata Bersama
- 29 Jul 2026 09:52 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Kepedulian sosial harus dibuktikan melalui tindakan nyata, bukan hanya komentar di media sosial.
- Relawan PMI Kabupaten Buleleng mengajak generasi muda untuk bergabung dalam kegiatan kemanusiaan seperti donor darah dan membantu korban.
- Setiap aksi kecil dalam kemanusiaan memiliki arti yang besar bagi orang yang membutuhkan pertolongan.
RRI.CO.ID, Singaraja - Kepedulian terhadap sesama tidak cukup diwujudkan melalui komentar di media sosial, tetapi perlu dibuktikan dengan tindakan nyata. Pesan tersebut disampaikan Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Buleleng, Galar dan Juniartini, saat menjadi narasumber dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja pada Rabu, 29 Juli 2026.
Keduanya mengajak generasi muda untuk mulai berani mengambil peran dalam kegiatan kemanusiaan, mulai dari langkah sederhana seperti donor darah, membantu korban di sekitar, hingga bergabung sebagai relawan. Menurut mereka, setiap aksi kecil memiliki arti besar bagi orang yang membutuhkan pertolongan.
Galar menjelaskan, kepedulian merupakan sikap peka terhadap kondisi di sekitar sehingga seseorang mampu memberikan respons ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan. Menurutnya, semangat menjadi relawan tumbuh setelah merasakan manfaat donor darah yang mampu membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Pengalaman tersebut kemudian membuka jalan baginya untuk terlibat lebih jauh dalam berbagai kegiatan kemanusiaan.
"Awalnya saya donor darah, lalu saya sadar ternyata tindakan sederhana itu bisa membantu orang lain. Dari sana saya melihat menjadi relawan bukan soal imbalan, tetapi bagaimana kita bisa membuat orang yang sedang berduka kembali memiliki semangat," ujar Galar.
Ia menambahkan bahwa pengalaman dan relasi yang diperoleh selama menjadi relawan jauh lebih berharga dibandingkan keuntungan materi. Hal senada disampaikan Juniartini yang mengaku tergerak menjadi relawan karena sering melihat masyarakat lebih memilih merekam kejadian dibandingkan memberikan pertolongan pertama. Menurutnya, tidak semua orang harus melakukan tindakan medis, tetapi setiap orang bisa mengambil peran sesuai kemampuannya.
"Peduli itu bisa dimulai dari hal terkecil. Kalau belum bisa memberikan pertolongan langsung, setidaknya kita bisa menghubungi ambulans atau layanan darurat agar korban segera mendapatkan bantuan," ucap Juniartini.
Ia menilai budaya merekam tanpa membantu seharusnya mulai diubah menjadi budaya saling peduli dan saling menguatkan ketika terjadi musibah. Dalam kesempatan tersebut, kedua relawan PMI juga mengakui bahwa menjadi relawan bukan tanpa tantangan. Selain harus mampu membagi waktu antara pendidikan, pekerjaan, dan kegiatan kemanusiaan, mereka juga dituntut memiliki kesiapan mental ketika berhadapan langsung dengan korban bencana maupun kecelakaan.
Galar mengungkapkan, tantangan terbesar justru muncul ketika harus memilih kata-kata yang tepat agar tidak memperburuk kondisi psikologis korban. Sementara Juniartini mengaku pernah menghadapi komentar negatif dari masyarakat saat memberikan pertolongan, namun pengalaman tersebut dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Melalui Obrolan SPADA, Galar dan Juniartini berharap semakin banyak anak muda menyadari bahwa aksi kemanusiaan tidak harus dimulai dari hal besar. Bergabung dengan organisasi seperti PMI, PMR, Pramuka maupun komunitas sosial lainnya dapat menjadi wadah untuk menyalurkan kepedulian terhadap sesama. Mereka juga mengajak masyarakat agar tidak berhenti pada rasa iba ketika melihat musibah, melainkan berani mengambil langkah nyata sesuai kemampuan masing-masing. Dengan semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam aksi sosial, budaya gotong royong dan kepedulian di tengah masyarakat diharapkan semakin kuat di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....