Duta Genre Dorong Remaja Berani Cerita tanpa Takut Dianggap Lemah
- 29 Jul 2026 08:02 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Keberanian untuk bercerita menjadi salah satu langkah awal dalam menjaga kesehatan mental remaja. Sayangnya, masih banyak anak muda memilih memendam masalah karena takut dianggap lemah atau hanya mencari perhatian. Kondisi tersebut menjadi perhatian Duta Genre Buleleng, Sukkun Siregar dan Dea Yogi Krisiani, dalam Obrolan Sore Ceria RRI Singaraja, Selasa, 28 Juli 2026. Melalui edukasi yang mereka lakukan, keduanya mengajak remaja mulai membuka ruang komunikasi dengan orang-orang yang dipercaya ketika menghadapi tekanan emosional.
Sukkun mengungkapkan, dirinya pernah mendampingi seorang teman yang menutup diri akibat persoalan keluarga. Menurutnya, banyak remaja merasa harus menyelesaikan semua masalah sendirian sehingga akhirnya memilih memendam beban pikiran. Padahal, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu menemukan sudut pandang baru sekaligus mengurangi tekanan emosional. "Ketika kita berani bercerita kepada orang yang kita percaya, sebesar apa pun masalah pasti akan lebih mudah dicari jalan keluarnya bersama," ujar Sukkun. Ia menilai teman yang mampu menjadi pendengar tanpa menghakimi memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental remaja.
Dea menambahkan, tidak semua orang yang sedang menghadapi masalah membutuhkan nasihat atau solusi. Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan teman yang mau mendengarkan cerita mereka. Karena itu, masyarakat juga perlu belajar menjadi pendengar yang baik agar orang-orang yang sedang mengalami tekanan tidak semakin merasa sendirian. "Kadang orang yang sedang bercerita bukan meminta solusi, tetapi hanya ingin didengarkan tanpa dihakimi sehingga mereka merasa lebih lega," kata Dea. Menurutnya, sikap empati jauh lebih berarti dibandingkan memberikan penilaian atau menyuruh seseorang untuk sekadar bersabar.
Dalam kesempatan tersebut, Duta Genre Buleleng juga memperkenalkan berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran remaja mengenai kesehatan mental. Selain aktif melakukan edukasi melalui media sosial, mereka juga mengunjungi sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali kondisi psikologis sejak dini. Program tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi remaja untuk saling mendukung serta menghilangkan stigma terhadap mereka yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, Sukkun dan Dea berharap semakin banyak remaja memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Justru keberanian mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja merupakan langkah penting untuk mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius. Mereka juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya keluarga dan teman sebaya, agar menciptakan ruang yang aman untuk mendengar, memahami, dan mendampingi remaja yang sedang menghadapi persoalan kesehatan mental tanpa memberikan stigma maupun penghakiman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....