Media Sosial Picu Tekanan Mental Remaja Masa Kini Indonesia

  • 29 Jul 2026 08:01 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Perkembangan media sosial membawa banyak manfaat bagi kehidupan remaja, mulai dari sarana belajar, mencari informasi hingga mengembangkan kreativitas. Namun, di balik kemudahan tersebut, media sosial juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya tekanan mental pada generasi muda. Hal itu disampaikan Duta Genre Buleleng, Sukkun Siregar dan Dea Yogi Krisiani, saat menjadi narasumber Obrolan Sore Ceria RRI Singaraja, Selasa, 28 Juli 2026. Keduanya mengajak remaja lebih bijak menggunakan media sosial agar tidak terjebak pada budaya membandingkan diri dengan orang lain yang berujung pada gangguan kesehatan mental.

Menurut Sukkun, derasnya arus informasi di era digital membuat banyak anak muda tanpa sadar mengukur keberhasilan hidup berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial. Foto-foto pencapaian, gaya hidup hingga kesuksesan orang lain sering kali memunculkan rasa kurang percaya diri dan overthinking. "Media sosial sebenarnya tergantung bagaimana kita menggunakannya. Kalau digunakan untuk hal-hal positif tentu membawa manfaat, tetapi ketika kita terus membandingkan diri dengan orang lain, justru bisa memicu overthinking dan mengganggu kesehatan mental," ujar Sukkun. Ia menambahkan bahwa setiap orang memiliki proses kehidupan yang berbeda sehingga tidak tepat jika pencapaian seseorang dijadikan tolok ukur bagi orang lain.

Sementara itu, Dea menilai fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi tantangan yang banyak dialami remaja saat ini. Keinginan untuk selalu mengikuti tren membuat sebagian anak muda merasa tertinggal ketika melihat keberhasilan orang lain di media sosial. Kondisi tersebut perlahan memengaruhi kepercayaan diri hingga kesehatan psikologis mereka. "Pencapaian seseorang tidak bisa dibandingkan dengan pencapaian orang lain karena setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ibarat bunga, semua akan mekar pada waktunya masing-masing," ucap Dea. Ia mengingatkan bahwa proses, perjuangan, hingga kegagalan merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup yang tidak selalu terlihat di media sosial.

Selain mengurangi kebiasaan membandingkan diri, kedua Duta Genre Buleleng juga mengajak remaja mulai membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Tidur yang cukup, berolahraga, melakukan aktivitas produktif, hingga memberi waktu untuk beristirahat dinilai mampu membantu menjaga kondisi emosional tetap stabil. Mereka juga mendorong anak muda lebih selektif memilih konten yang dikonsumsi agar media sosial benar-benar menjadi ruang belajar dan berkembang, bukan sumber tekanan yang memperburuk kondisi mental.

Melalui berbagai program edukasi yang dijalankan Duta Genre Buleleng, baik secara daring maupun kunjungan langsung ke sekolah-sekolah, diharapkan semakin banyak remaja memahami pentingnya menjaga kesehatan mental di era digital. Mereka juga berharap masyarakat tidak lagi memandang pembahasan kesehatan mental sebagai tren semata, melainkan kebutuhan yang harus diperhatikan bersama. Dengan penggunaan media sosial yang lebih sehat, generasi muda diharapkan mampu membangun rasa percaya diri tanpa harus terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....