Remaja Perlu Berani Jaga Mental sejak Dini

  • 29 Jul 2026 00:11 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kesehatan mental tidak lagi bisa dipandang sebagai isu yang hanya dialami segelintir orang. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial, remaja menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan psikologis. Hal itu menjadi pembahasan dalam Obrolan Sore Ceria RRI Singaraja, Selasa, 28 Juli 2026, menghadirkan Duta Genre Buleleng, Sukkun Siregar dan Dea Yogi Krisiani. Keduanya menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti menunjukkan kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri agar mampu menjalani kehidupan dengan lebih sehat dan produktif.

Dea menjelaskan, gangguan kesehatan mental dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari stres, depresi, burnout hingga tekanan lingkungan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dialami remaja, tetapi juga orang dewasa. Ia menilai stigma yang menganggap anak muda memiliki mental lemah justru membuat banyak remaja memilih memendam masalahnya sendiri. "Kesehatan mental itu sangat penting. Saat ini tidak hanya remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental, tetapi juga banyak orang dewasa karena faktor stres, depresi, burnout dan berbagai tekanan lainnya," ujar Dea. Ia menambahkan, tekanan di lingkungan sekolah, perundungan hingga tuntutan sosial di media digital turut memperbesar risiko munculnya gangguan kesehatan mental pada remaja.

Sementara itu, Sukkun menilai perkembangan media sosial menjadi salah satu tantangan terbesar bagi generasi muda saat ini. Menurutnya, budaya membandingkan diri dengan kehidupan orang lain membuat banyak remaja merasa tertinggal dan kehilangan rasa percaya diri. Kondisi tersebut akhirnya memicu overthinking hingga munculnya gangguan kesehatan mental. "Media sosial sebenarnya tergantung bagaimana kita menggunakannya. Kalau dipakai untuk hal positif tentu akan membawa manfaat, tetapi kalau terus membandingkan diri dengan orang lain justru bisa membuat kita semakin mudah overthinking," ucap Sukkun. Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda sehingga pencapaian tidak dapat diukur dengan standar yang sama.

Dalam kesempatan tersebut, kedua Duta Genre Buleleng juga mengajak remaja agar lebih berani mencari bantuan ketika mulai merasa tidak baik-baik saja. Menurut mereka, langkah sederhana seperti berbicara dengan teman yang dipercaya dapat menjadi awal untuk mengurangi beban pikiran. Sukkun mengaku pernah mendampingi seorang temannya yang memilih menutup diri akibat persoalan keluarga. Setelah diberikan ruang untuk bercerita, perlahan kondisi temannya mulai membaik. Dea pun mengingatkan bahwa tidak semua orang yang bercerita membutuhkan solusi. Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan pendengar yang tidak menghakimi agar merasa diterima dan dipahami.

Selain membangun keberanian untuk bercerita, menjaga kesehatan mental juga dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana seperti tidur yang cukup, berolahraga, melakukan aktivitas positif hingga memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat. Duta Genre Buleleng juga terus melakukan edukasi melalui media sosial maupun kunjungan langsung ke sekolah-sekolah agar semakin banyak remaja memahami pentingnya kesehatan mental. Melalui kegiatan tersebut, mereka berharap stigma bahwa membicarakan kesehatan mental adalah tanda kelemahan dapat perlahan hilang, sehingga remaja lebih berani mengenali kondisi dirinya dan saling mendukung satu sama lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....