Pengendalian Diri Jadi Kunci Mewujudkan Ahimsa Bagi Generasi Muda

  • 29 Jul 2026 00:10 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kehidupan modern yang serba cepat membuat generasi muda menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tuntutan pendidikan, pekerjaan, hingga derasnya arus informasi digital. Situasi tersebut sering memicu ledakan emosi yang berujung pada tindakan maupun ucapan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Kadek Satria, menilai pengendalian diri menjadi inti ajaran Ahimsa yang sangat relevan diterapkan oleh generasi muda saat ini.

Menurut Satria, setiap manusia memiliki rasa marah, kecewa, maupun ego. Namun, ajaran Ahimsa tidak mengajarkan manusia menghilangkan emosi tersebut, melainkan mengarahkannya agar tetap berada dalam koridor kebaikan. "Setiap orang pasti memiliki kemarahan, tetapi Ahimsa mengajarkan bagaimana mengendalikan amarah itu sehingga tidak berubah menjadi kekerasan," ujar Satria. Ia menambahkan bahwa kemampuan menguasai diri merupakan proses latihan yang harus dilakukan secara terus-menerus melalui kebiasaan berpikir jernih dan menjaga perilaku.

Ia menjelaskan bahwa generasi muda saat ini hidup di tengah lingkungan yang dipenuhi berbagai pengaruh, baik dari media sosial, tontonan, maupun lingkungan pergaulan. Karena itu, mereka membutuhkan benteng berupa kesadaran spiritual agar tidak mudah mengikuti arus emosi ataupun provokasi. Salah satu cara sederhana adalah melatih refleksi diri, berpikir sebelum bertindak, serta membiasakan meminta maaf dan memaafkan ketika terjadi konflik. Kebiasaan tersebut diyakini mampu membangun karakter yang lebih dewasa dalam menghadapi berbagai persoalan.

Satria juga menekankan bahwa Ahimsa bukan berarti membiarkan kejahatan terjadi tanpa tindakan. Ketika menghadapi pelanggaran hukum, masyarakat tetap boleh melakukan perlawanan dengan cara yang benar dan sesuai aturan. Ia menegaskan bahwa penyelesaian melalui jalur hukum jauh lebih mencerminkan nilai kemanusiaan dibandingkan aksi main hakim sendiri. "Perlawanan tetap boleh dilakukan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang bermartabat dan tidak kehilangan nilai kemanusiaan," ucap Satria.

Melalui penguatan nilai Ahimsa, ia berharap generasi muda mampu menjadi pribadi yang tidak mudah terpancing emosi, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia digital. Menurutnya, pengendalian diri bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dalam menyikapi berbagai persoalan. Dengan karakter yang kuat, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perdamaian, menjaga harmoni sosial, serta menghadirkan solusi tanpa harus mengedepankan kekerasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....