Bijak Bermedia Sosial Wujudkan Nilai Ahimsa dalam Kehidupan Sehari

  • 29 Jul 2026 00:09 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Media sosial kini menjadi ruang utama masyarakat memperoleh informasi sekaligus menyampaikan pendapat. Namun, kemudahan tersebut juga membuat banyak orang dengan cepat menghakimi sebuah peristiwa tanpa memahami kronologi secara utuh. Fenomena itu terlihat dari berbagai komentar yang muncul dalam kasus viral dugaan pencurian yang berakhir dengan aksi kekerasan. Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Kadek Satria, mengingatkan pentingnya menerapkan nilai Ahimsa dalam bermedia sosial agar masyarakat tidak ikut memperkeruh situasi melalui ujaran kebencian.

Menurut Satria, perkembangan teknologi membuat setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan opini. Sayangnya, tidak semua pengguna media sosial memiliki kemampuan menyaring informasi sebelum berkomentar. Akibatnya, ruang digital sering dipenuhi narasi provokatif yang justru memancing konflik baru. "Media sosial memberi ruang sangat besar bagi siapa saja untuk berbicara, tetapi setiap komentar tetap harus dikendalikan oleh kesadaran diri," ujar Satria. Ia menilai kebebasan berekspresi harus diimbangi tanggung jawab moral agar tidak melukai orang lain.

Satria menjelaskan bahwa Ahimsa bukan hanya diterapkan dalam tindakan fisik, tetapi juga dalam pikiran dan perkataan. Komentar yang bernada menghina, memprovokasi, maupun menghakimi tanpa dasar dapat menjadi bentuk kekerasan verbal yang sama berbahayanya. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, membiasakan diri melakukan penyaringan informasi sebelum memberikan tanggapan. Menurutnya, pengendalian diri merupakan benteng utama agar media sosial tetap menjadi ruang edukasi, bukan tempat memperbesar kebencian.

Selain itu, ia menilai pentingnya membangun kesadaran bahwa setiap unggahan maupun komentar akan meninggalkan jejak digital. Apa yang ditulis seseorang hari ini dapat memengaruhi kehidupan sosial maupun profesional di masa depan. Karena itu, generasi muda perlu membangun kebiasaan berpikir sebelum mengetik dan memastikan setiap pernyataan tidak memicu konflik baru. "Filter terbaik bukan berasal dari aplikasi, melainkan dari kesadaran setiap orang sebelum menulis ataupun membagikan sesuatu," ucap Satria.

Ia berharap masyarakat semakin bijak menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan informasi positif dan memperkuat nilai kemanusiaan. Menurutnya, Ahimsa tetap relevan di era digital karena mengajarkan manusia mengendalikan amarah, menjaga tutur kata, serta menghormati sesama meskipun memiliki perbedaan pandangan. Dengan begitu, ruang digital dapat menjadi tempat bertukar gagasan secara sehat tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan maupun persaudaraan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....