Literasi Digital Jadi Kunci Lawan Hoaks dan Provokasi Daring
- 27 Jul 2026 09:12 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Kecepatan penyebaran informasi di media sosial membawa manfaat besar bagi masyarakat, namun di sisi lain juga meningkatkan risiko penyebaran hoaks dan informasi provokatif. Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat dibagikan ribuan kali tanpa melalui proses verifikasi. Fenomena tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja bersama Trimahanarayani pada Senin, 27 Juli 2026. Ia menekankan bahwa kemampuan menyaring informasi menjadi keterampilan yang wajib dimiliki seluruh pengguna media sosial agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Menurutnya, kebiasaan membagikan informasi tanpa melakukan pengecekan menjadi salah satu penyebab utama penyebaran berita bohong di media sosial. Banyak pengguna hanya membaca judul atau melihat potongan informasi tanpa memahami isi keseluruhan. Padahal, berbagai platform kini telah menyediakan fitur untuk membantu pengguna mengetahui konteks sebuah informasi. "Yang paling dasar itu saring sebelum sharing. Cari dulu kebenarannya, lihat dari berbagai sudut pandang sebelum memutuskan membagikan informasi," ujar Trimahanarayani.
Ia juga menyoroti maraknya akun media sosial yang sengaja membuat konten provokatif demi mengejar perhatian publik. Menurutnya, strategi tersebut memang mampu menarik banyak penonton maupun komentar, tetapi belum tentu memberikan manfaat bagi masyarakat. Bahkan, konten yang sengaja memancing emosi sering kali memunculkan perpecahan di tengah masyarakat karena audiens terpancing bereaksi tanpa memahami konteks secara utuh. Kondisi tersebut diperparah oleh rendahnya minat membaca penjelasan yang disertakan dalam sebuah unggahan.
Trimahanarayani mengingatkan bahwa pengguna media sosial tidak perlu ikut memperbesar penyebaran konten provokatif. Jika menemukan unggahan yang mengandung ujaran kebencian atau berpotensi memecah belah masyarakat, pengguna dapat memanfaatkan fitur pelaporan yang tersedia di platform digital. "Kalau memang kontennya sangat berlebihan dan menimbulkan perpecahan, tentu saja bisa dilaporkan. Kalau memang tidak suka juga bisa di-skip atau di-unfollow," ucap Trimahanarayani.
Ia berharap meningkatnya literasi digital dapat membentuk masyarakat yang lebih kritis sekaligus bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial. Tidak hanya berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi, literasi digital juga mencakup kemampuan memverifikasi informasi, memahami konteks, menghargai perbedaan pendapat, hingga menghindari penyebaran konten yang dapat merugikan orang lain. Dengan sikap tersebut, media sosial dapat menjadi ruang yang sehat untuk berbagi informasi sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....