Bijak Bermedia Sosial Cerminkan Nilai Keindonesiaan Generasi Muda Masa Kini

  • 27 Jul 2026 09:11 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Berbagai aktivitas mulai dari mencari informasi, belajar, bekerja, hingga membangun relasi kini dilakukan melalui platform digital. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul tantangan baru berupa menurunnya etika dalam berkomunikasi di ruang digital. Kondisi ini menjadi perhatian dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja bersama Trimahanarayani pada Senin, 27 Juli 2026 yang mengangkat pentingnya bijak bermedia sosial sebagai wujud nilai-nilai keindonesiaan. Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat masyarakat kehilangan sikap saling menghargai, sopan santun, dan toleransi yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia.

Trimahanarayani menilai media sosial sebenarnya memberikan ruang yang sangat luas bagi setiap orang untuk menyampaikan gagasan dan mengekspresikan diri. Akan tetapi, kebebasan tersebut harus dibarengi dengan rasa tanggung jawab. Banyak pengguna yang merasa aman karena berada di balik layar sehingga lebih mudah melontarkan komentar kasar ataupun menyebarkan ujaran yang dapat melukai orang lain. "Media sosial itu gampang banget kita akses, jadinya kita gampang banget buat berekspresi. Tapi kadang ada beberapa tindakan yang dilakukan tanpa memikirkan bagaimana dampaknya terhadap orang lain," ujar Trimahanarayani.

Ia menjelaskan bahwa salah satu nilai keindonesiaan yang mulai memudar di media sosial adalah sikap saling menghormati di tengah keberagaman. Indonesia yang memiliki banyak budaya, bahasa, dan latar belakang semestinya menjadi contoh bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan saling menghargai. Namun, perbedaan pendapat di media sosial justru sering berujung pada saling menghina dan memperuncing konflik. Menurutnya, setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda sehingga penyampaian opini harus dilakukan dengan bahasa yang santun serta memberi ruang bagi orang lain untuk menyampaikan pendapatnya.

Selain itu, Trimahanarayani mengingatkan bahwa komentar sederhana sekalipun dapat memberikan dampak besar bagi kondisi psikologis seseorang. Candaan yang dianggap biasa oleh satu orang belum tentu diterima dengan baik oleh orang lain. Tidak sedikit kasus perundungan siber berawal dari komentar yang dianggap sepele. "Kadang kita niatnya bercanda, ternyata itu jadi bahan overthinking orang lain. Dampaknya bukan hal yang sederhana karena bisa menjadi cyber bullying," ucap Trimahanarayani.

Melalui obrolan tersebut, masyarakat khususnya generasi muda diajak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan hal-hal positif sekaligus mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa. Sikap saling menghormati, toleransi, serta kemampuan menyampaikan pendapat secara santun dinilai menjadi modal penting agar media sosial tidak menjadi ruang yang memecah belah masyarakat. Dengan demikian, nilai keindonesiaan tidak hanya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga tercermin dalam setiap unggahan, komentar, maupun interaksi di dunia digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....