Kebiasaan Kecil Mampu Ciptakan Budaya Bersih Titik Nol Singaraja

  • 24 Jul 2026 11:48 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Menjaga kebersihan ruang publik tidak selalu harus dimulai dari aksi besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dinilai mampu membentuk budaya baru di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan Anggota Paguyuban Green Youth Bali, Widya, saat mengisi Obrolan SPADA RRI Singaraja, Jumat, 24 Juli 2026. Menurutnya, kehadiran Titik Nol Singaraja sebagai ikon baru Bali Utara menjadi momentum untuk membangun kebiasaan masyarakat yang lebih bertanggung jawab terhadap sampah, sehingga kawasan tersebut tetap nyaman dikunjungi dalam jangka panjang.

Widya menjelaskan perubahan perilaku masyarakat mulai terlihat sejak kawasan Titik Nol ramai dikunjungi. Meskipun fasilitas tempat sampah umum belum tersedia, para pedagang berinisiatif menyediakan tempat sampah pribadi yang dapat digunakan pengunjung. Selain itu, tidak sedikit masyarakat yang memilih menyimpan sampah sementara sebelum menemukan tempat sampah. "Aku melihat sudah ada kebudayaan dan kebiasaan yang sangat baik dari masyarakat Kota Singaraja. Bahkan ada pengunjung yang mengantongi sampahnya sendiri karena belum menemukan tempat sampah," ujar Widya. Menurutnya, kebiasaan tersebut menjadi contoh bahwa menjaga kebersihan tidak selalu bergantung pada fasilitas, tetapi juga kesadaran setiap individu.

Sebagai pegiat lingkungan, Widya mengajak masyarakat mulai menerapkan gaya hidup minim sampah melalui langkah sederhana. Ia membiasakan membawa tumbler, kotak makan sendiri, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat membeli makanan atau minuman. Kebiasaan tersebut dinilai tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga dapat menghemat penggunaan kemasan plastik oleh pedagang. Menurutnya, semakin banyak masyarakat menerapkan kebiasaan tersebut, semakin kecil pula potensi sampah yang dihasilkan di ruang publik.

Widya juga memperkenalkan metode "saku sampah", yakni kebiasaan menyimpan sampah sementara di dalam tas atau saku ketika belum menemukan tempat sampah. Kebiasaan tersebut telah ia terapkan sejak duduk di bangku sekolah dasar dan terus dilakukan hingga sekarang. "Kalau belum menemukan tempat sampah, kita bisa simpan dulu sampahnya di tas atau saku. Itu menjadi tanggung jawab kita sendiri sampai menemukan tempat sampah yang tepat," kata Widya. Ia menilai metode sederhana tersebut dapat diterapkan siapa saja tanpa memerlukan biaya maupun peralatan khusus.

Menurut Widya, budaya menjaga kebersihan harus terus dibangun agar tidak hanya berlaku di Titik Nol Singaraja, tetapi juga di seluruh ruang publik. Ia berharap masyarakat tidak sekadar menjaga kebersihan karena adanya aturan atau takut menjadi sorotan, melainkan menjadikannya sebagai bagian dari karakter sehari-hari. Dengan dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, masyarakat diyakini mampu menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman sekaligus menjaga Titik Nol Singaraja tetap menjadi kebanggaan warga Bali Utara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....