Menyalakan Lentera Masa Depan: Kisah Inspiratif Tokoh Ramah Anak Asal Buleleng

  • 23 Jul 2026 14:52 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Menciptakan lingkungan yang ramah anak bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan sebuah panggilan kemanusiaan untuk menyelamatkan masa depan bangsa. Di tengah maraknya tantangan zaman modern mulai dari kekerasan anak hingga kecanduan gawai hadir sosok-sosok inspiratif yang memilih untuk tidak tinggal diam.

Salah satu tokoh nyata yang mendedikasikan hidupnya untuk gerakan ramah anak adalah Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, seorang penerima Tokoh Ramah Anak 2026 asal Buleleng. Kisahnya menjadi bukti bahwa keteguhan hati seseorang mampu menjadi payung pelindung bagi jutaan anak Indonesia.

Perempuan yang akrab disapa Hervina mengatakan ditengah tantangan zaman saat ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai mereka. Disinilah peran orangtua sangat krusial bagi masa depan anak-anak mereka.

“Dulu kita main permainan tradisional, sekarang semua sibuk dengan gadgetnya, kita tidak bisa hapus itu,” ujarnya saat mengisi dialog Sore Ceria di Pro 2 RRI Singaraja Rabu, 22 Juli 2026.

“Tapi bagaimana orangtua mengarahkan anak, memperkenalkan mereka dengan lingkungan, misal saya ketika ke kampung halaman, saya ajak anak saya bermain masak-masakan agar mereka tahu dan tidak main HP saja,” katanya menambahkan.

Ayu Hervina (kanan) saat berfoto bersama host (kiri) usai obrolan Sore Ceria Rabu, 22 Juli 2026 (Foto: Dok. RRI)

Bagi peraih Inovator Pendidikan Nasional 2026 itu, mewujudkan lingkungan ramah anak harus dimulai dengan mengubah cara pandang masyarakat dewasa terhadap anak-anak. Guru dan orang tua wajib mengetahui dan menciptakan pola asuh positif bagi anak.

“Orang tua harus memberi contoh ke anak, karena anak adalah cerminan dari orang tua, kita melarang mereka main HP tapi kita yang sibuk dengan HP kita, jadilah role buat anak-anak,” katanya.

Perempuan yang merupakan pendiri Widya Aksara Foundation menekankan, dalam mengedukasi anak sebaiknya mengikuti tips yang disampaikan ‘Kak Seto’. Hentikan kekerasan fisik dalam mendidik anak, sebaliknya jika kesal tuangkan menjadi lagu.

“Waktu menerima penghargaan dapat rumus dari kak Seto, kalau mau marah ke anak karena tingkah mereka nyanyi aja, maka kita tidak akan jadi marah dan anak juga tidak menerima kata maupun tindakan kekerasan dari kita,” ucapnya.

Perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif. Langkah kecil seperti mendengarkan cerita anak dengan sabar, tidak membentak, dan berani melaporkan indikasi kekerasan di sekitar kita sudah menjadi kontribusi nyata dalam melanjutkan estafet perjuangan tokoh ramah anak. Dengan begitu semua orang dapat menciptakan dunia di mana setiap anak bisa tersenyum tanpa rasa takut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....