Pertolongan Pertama Jadi Bekal Penting Hadapi Situasi Darurat Sehari-hari
- 19 Jul 2026 12:35 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Kemampuan memberikan pertolongan pertama tidak hanya dibutuhkan oleh tenaga kesehatan atau relawan, tetapi juga penting dimiliki masyarakat umum. Penanganan yang cepat dan tepat sebelum bantuan medis tiba dapat membantu mengurangi risiko cedera yang lebih serius bahkan menyelamatkan nyawa seseorang. Hal tersebut disampaikan narasumber dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Buleleng, Wiwik Karlina dan Julita, dalam program Obrolan SPADA PRO 2 RRI Singaraja beberapa waktu lalu. Keduanya mengajak masyarakat untuk memahami langkah-langkah dasar pertolongan pertama agar lebih siap menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitar.
Wiwik Karlina menjelaskan bahwa prinsip utama dalam memberikan pertolongan pertama dikenal dengan konsep 3A, yakni Aman Diri, Aman Lingkungan, dan Aman Korban. Menurutnya, keselamatan penolong harus menjadi prioritas sebelum memberikan bantuan kepada korban. Penolong juga perlu memastikan lokasi kejadian berada dalam kondisi aman agar tidak menambah jumlah korban. "Sebelum menolong, pastikan diri sendiri aman, lingkungan sekitar aman, kemudian baru memberikan pertolongan kepada korban sesuai kebutuhannya," ujar Wiwik Karlina. Ia mencontohkan, apabila terjadi kecelakaan di dekat tiang listrik atau jalan raya, penolong harus lebih dahulu memastikan area tersebut tidak membahayakan semua pihak yang berada di lokasi.
Selain memahami prinsip dasar, masyarakat juga perlu mengetahui penanganan awal terhadap kondisi yang sering dijumpai. Salah satunya adalah kram otot yang dapat diatasi dengan melakukan peregangan secara perlahan pada bagian yang mengalami kekakuan, dilanjutkan dengan kompres dingin dan pemberian minuman apabila kondisi korban memungkinkan. Sementara untuk luka lecet, langkah yang dianjurkan adalah membersihkan luka menggunakan cairan NaCl atau air bersih, kemudian menutupnya menggunakan kasa steril, antiseptik, serta perban atau plester sesuai ukuran luka. Penanganan sederhana tersebut dapat membantu mencegah infeksi sebelum korban mendapatkan perawatan lanjutan apabila diperlukan.
Julita menambahkan bahwa kondisi pingsan memerlukan perhatian khusus karena dapat berkaitan dengan gangguan yang lebih serius. Penolong dianjurkan memeriksa respons korban menggunakan metode ASNT, yaitu Awas, Suara, Nyeri, dan Tidak Respon. Apabila korban tidak memberikan respons, masyarakat diminta segera menghubungi layanan medis dan mempertimbangkan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) apabila memiliki kompetensi untuk melakukannya. "Jika ragu melakukan tindakan medis, langkah terbaik adalah mengamankan lokasi dan segera menghubungi ambulans agar korban mendapatkan penanganan profesional," ucap Julita. Menurutnya, tidak semua kondisi harus ditangani sendiri apabila kemampuan penolong masih terbatas.
Melalui edukasi tersebut, PMI Kabupaten Buleleng berharap masyarakat semakin memahami bahwa pertolongan pertama merupakan tindakan awal yang sangat menentukan sebelum tenaga medis tiba di lokasi. Pengetahuan dasar mengenai keselamatan penolong, penanganan luka ringan, hingga cara menghadapi korban pingsan dapat menjadi bekal penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meningkatnya kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat, diharapkan semakin banyak situasi darurat yang dapat ditangani secara tepat sehingga risiko cedera maupun kehilangan nyawa dapat diminimalkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....