DORA Permudah Donor Darah Darurat, Inovasi Buleleng Raih Penghargaan

  • 05 Jul 2026 19:54 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kebutuhan donor darah darurat masih menjadi persoalan yang kerap dihadapi masyarakat, terutama ketika stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD) terbatas atau keluarga pasien harus mencari donor pengganti dalam waktu singkat. Kondisi tersebut mendorong lahirnya DORA (Donor Darah Darurat), sebuah inovasi digital karya putra daerah Buleleng yang dirancang untuk mempercepat pencarian relawan donor melalui sistem berbasis web.

DORA dikembangkan sebagai aplikasi gotong royong digital menggunakan platform Letoris. Aplikasi ini tidak mengambil alih peran Unit Transfusi Darah (UTD) maupun Palang Merah Indonesia (PMI), tetapi berfungsi menghubungkan masyarakat yang membutuhkan donor darah darurat dengan komunitas relawan yang bersedia membantu. Seluruh proses donor darah tetap dilaksanakan sesuai prosedur medis yang berlaku di UTD PMI Buleleng.

Pendiri DORA, AIPTU Gede Surik Siawan, S.E., mengatakan ide pengembangan aplikasi tersebut muncul setelah melihat masih banyak keluarga pasien yang kesulitan memperoleh pendonor ketika menghadapi kondisi darurat. Menurutnya, hingga kini permintaan donor darah masih sering disebarkan melalui media sosial maupun grup percakapan sehingga diperlukan cara yang lebih cepat untuk mempertemukan kebutuhan dengan relawan donor.

"Permasalahan kebutuhan darah, terutama untuk kondisi darurat, masih sering terjadi. Baik karena stok darah habis maupun kebutuhan donor pengganti. Hingga sekarang kita masih melihat banyak permohonan donor darah beredar di media sosial maupun grup percakapan. Dari situ muncul gagasan bagaimana teknologi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan mereka yang membutuhkan dengan orang-orang yang ingin membantu," ujarnya.

Saat ini DORA masih berada pada tahap pilot project dan baru beroperasi di Kabupaten Buleleng. Dua komunitas telah bergabung sebagai relawan, yaitu Polres Buleleng dan Kita Pasti Bisa. Meski demikian, Surik menegaskan bahwa seluruh anggota yang terlibat bersifat sukarela karena donor darah memiliki persyaratan kesehatan dan tidak semua orang dapat mendonorkan darahnya.

"Kami membangun gerakan sosial yang murni sukarela. Tidak semua anggota komunitas menjadi pendonor karena donor darah memiliki persyaratan kesehatan dan juga membutuhkan kesiapan masing-masing," katanya.

Surik juga mengisahkan pengalaman ketika menerima permohonan donor darah dari keluarga pasien asal luar Kabupaten Buleleng yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Sanglah. Permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena jaringan relawan DORA saat ini masih terbatas di wilayah Buleleng. Pengalaman itu menjadi dorongan untuk terus memperluas jangkauan layanan ke daerah lain.

"Kami sangat ingin membantu, tetapi jaringan relawan kami saat ini memang masih sangat terbatas dan baru ada di Kabupaten Buleleng. Pengalaman itu menjadi motivasi agar suatu saat DORA dapat menjangkau kabupaten lain sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa terbantu," ucapnya.

Sejak mulai diperkenalkan pada akhir Desember 2025 hingga awal Juli 2026, DORA telah menerima 61 permohonan donor darah. Sebanyak 40 kantong darah berhasil dipenuhi atau sekitar 65,6 persen, sedangkan 21 permohonan lainnya belum dapat dipenuhi karena keterbatasan jumlah relawan maupun faktor kecocokan donor. Data tersebut menunjukkan kebutuhan donor darah darurat di masyarakat masih cukup tinggi sekaligus menjadi tantangan untuk memperluas jaringan relawan.

Menurut Surik, keberhasilan gerakan kemanusiaan tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan. Ia menilai kekuatan utama justru berada pada sumber daya manusia yang bersedia meluangkan waktu untuk membantu sesama.

"Kalau saya boleh menilai, teknologi mungkin hanya berkontribusi sekitar 25%. Sisanya, sekitar 75%, sangat bergantung pada sumber daya manusianya, baik tim pengelola maupun para relawan donor darah. Mereka adalah pahlawan yang sesungguhnya karena yang mereka sumbangkan bukan hanya darah, tetapi juga waktu, tenaga, bahkan biaya transportasi untuk datang mendonor. Semua dilakukan dengan tulus dan sukarela," ujarnya.

Karena itu, penguatan komunitas relawan menjadi fokus utama pengembangan DORA ke depan. Surik berharap semakin banyak masyarakat yang bergabung sehingga peluang memenuhi kebutuhan donor darah darurat akan semakin besar.

"Harapan kami sederhana, DORA dapat membantu lebih banyak orang, tidak hanya di Buleleng tetapi juga di kabupaten lain. Saya yakin masih banyak orang baik di sekitar kita yang ingin membantu, hanya saja mereka belum menemukan jembatan yang mempertemukan dengan orang yang membutuhkan. DORA berupaya menjadi jembatan kemanusiaan itu," katanya.

Atas inovasi tersebut, pendiri DORA yang juga menjabat sebagai PS. Kasubsi Penmas Humas Polres Buleleng, AIPTU Gede Surik Siawan, S.E., menerima penghargaan dari Kapolres Buleleng, AKBP Ruzi Gusman, S.I.K., M.Si., M.T., M.Sc., pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Rabu 1 Juli 2026. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas inovasi di bidang sosial kemanusiaan yang membantu menjawab kebutuhan donor darah darurat di Kabupaten Buleleng. Ke depan, pengembangan jaringan relawan diharapkan mampu memperluas manfaat DORA sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat memperoleh bantuan donor darah secara cepat saat dibutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....