Memaknai Hari Raya Kuningan sebagai Gerbang Kemurnian Jiwa

  • 27 Jun 2026 11:23 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Hari Raya Kuningan dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan, atau sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan. Sebagai hari suci yang penuh makna, Kuningan menjadi momentum bagi umat untuk memohon keselamatan, perlindungan, dan tuntunan lahir batin.

Secara etimologi, kata Kuningan berasal dari kata dasar uning yang berarti mengetahui atau sadar. Dengan demikian hari raya ini dimaknai sebagai upaya umat manusia untuk mencapai peningkatan spiritual melalui introspeksi diri.

Pada perayaan ini, umat Hindu mempercayai bahwa para Dewa dan leluhur yang turun ke bumi pada saat Galungan akan kembali ke kahyangan/alam suci mereka. Waktu turunnya para Dewata diyakini hanya berlangsung hingga tengah hari, sehingga persembahyangan pada hari Kuningan umumnya diselesaikan sebelum pukul 12.00 siang.

Hari Raya Kuningan identik dengan berbagai sarana upakara khusus yang sarat akan makna simbolis. Sarana tersebut antara lan sebagai berikut:

Ajengan Kuning (Nasi Kuning): Menjadi persembahan utama yang menyimbolkan kemakmuran, kesejahteraan, dan ungkapan terima kasih atas limpahan anugerah dari Sang Hyang Widhi Wasa.

Tamiang: Anyaman janur berbentuk lingkaran yang menyerupai perisai. Simbol ini dimaknai sebagai perlindungan diri dan senjata spiritual untuk menangkis hal-hal negatif.

Endongan: Anyaman janur berbentuk menyerupai tas atau perbekalan. Melambangkan bekal spiritual yang dibawa saat lahir dan mengarungi kehidupan, serta ungkapan kasih kepada leluhur.

Sebelum puncak perayaan Kuningan tiba, terdapat rangkaian persiapan yang dilakukan oleh umat Hindu yakni Penampahan Kuningan yang dilaksanakan tepat sehari sebelum Kuningan. Pada hari ini, umat melakukan persiapan lahir batin, mulai dari menyembelih hewan ternak untuk sarana banten, hingga merangkai sarana upacara seperti Tamiang dan Endongan.

Walau zaman terus berkembang, nilai-nilai sosial dan budaya yang terkandung dalam Hari Raya Kuningan tak pernah pudar. Perayaan ini menjadi momen penting untuk mempererat tali persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial, serta menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam semesta. Hari Raya Kuningan menjadi pengingat abadi bagi umat manusia untuk senantiasa hidup dengan pikiran yang jernih dan budi pekerti yang luhur.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....