Filosofi Bunga Tunjung Lambang Kesucian

  • 27 Jun 2026 03:28 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Dalam ritual keagamaan Hindu di Bali, Bunga Padma atau Bunga Tunjung menempati kedudukan utama. Berdasarkan buku Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu karya I Ketut Wiana (2001), bunga ini merupakan simbol teologis yang utama, baik sebagai lambang kesucian hati umat (jiwatman) maupun sebagai Sthana suci Hyang Widhi Wasa.

Kedudukan tinggi Bunga Tunjung disucikan melalui mantra Puja Pangastawa: "Om Puspa Lingga Mahā devyam, Mahā pataka nasanam, somasthanam shito devam, lalata Brāhmana sarwāpi." Mantra ini menegaskan bahwa Hyang Widhi berstana di tempat yang sangat suci dan bertindak sebagai pelebur segala dosa.

Ditinjau dari sudut pandang keagamaan, Bunga Tunjung dinobatkan sebagai raja segala bunga karena strukturnya mencerminkan makrokosmos (Patalaning Bhuvana). Kelopak luar dan bagian dalamnya melambangkan manifestasi Tuhan sebagai Dewata Nawa Sanga (sembilan penguasa arah mata angin), dengan Sang Hyang Siwa di bagian tengahnya.

Bunga Tunjung dijuluki Pangkaja yang berarti lahir dari lumpur. I Ketut Wiana menuliskan sebuah catatan filosofis yang mendalam mengenai keunikan ekologis bunga ini. Akarnya tertancap pada lumpur, tangkai daun serta ujung daunnya di air, dan bunganya tersembul di udara. Hal ini berarti Bunga Padma dapat mengatasi keadaan pada tiga kondisi alam. Barang siapa mampu mengatasi keadaan, maka dialah sesungguhnya yang memiliki kekuatan suci.

Melalui kemampuan unik hidup di tiga alam tersebut, Bunga Tunjung menjadi simbol ketulusan bagi sang pemuja sekaligus lambang kesucian Tuhan yang dipuja. Dalam penerapannya pada sarana upacara ritual seperti Prayascitta, anyaman janur yang disebut Sampian Padma juga difungsikan secara simbolis sebagai senjata Dewa Iswara untuk membersihkan dan melebur segala bentuk kekotoran (Mala), baik secara lahiriah maupun rohaniah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....