Gaya Hidup Konsumtif Tinggalkan Jejak Sampah Bagi Lingkungan Sekitar
- 26 Jun 2026 08:53 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Budaya konsumtif di kalangan generasi muda semakin mudah ditemukan seiring maraknya tren belanja daring, promo diskon, hingga pengaruh media sosial. Banyak orang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan sekadar mengikuti tren atau rasa penasaran. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan, tetapi juga menghasilkan timbulan sampah yang terus meningkat. Hal itu disampaikan Green Youth Putra Bali 2025 sekaligus Anggota Paguyuban Green Youth Bali, Yuda Septyadi, saat menjadi narasumber dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja, Jumat, 26 Juni 2026.
Menurut Yuda, perilaku konsumtif merupakan kebiasaan yang lebih mengutamakan keinginan dibandingkan kebutuhan. Tanpa disadari, keputusan sederhana seperti membeli minuman karena kemasannya menarik atau membeli barang saat flash sale turut menyumbang beban lingkungan. "Budaya konsumtif itu ketika kita lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan. Hal-hal yang terlihat sepele justru menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai persoalan lingkungan karena setiap barang yang kita beli membutuhkan proses produksi, bahan baku, dan sumber daya," ujar Yuda. Ia menjelaskan, semakin banyak barang yang dibeli tanpa benar-benar digunakan, semakin besar pula potensi sampah yang dihasilkan.
Yuda menilai minimnya kesadaran mengenai dampak lingkungan menjadi alasan mengapa anak muda mudah terjebak dalam perilaku konsumtif. Selain meninggalkan jejak sampah, kebiasaan tersebut juga berdampak terhadap kondisi finansial pribadi karena uang yang seharusnya bisa ditabung justru habis untuk memenuhi keinginan sesaat. "Kalau kita belum tahu dampaknya, kita akan terus mengulang kebiasaan itu. Padahal bukan hanya lingkungan yang dirugikan, tetapi diri kita sendiri juga karena pengeluaran menjadi tidak terkontrol," ucap Yuda. Ia mengajak generasi muda untuk mulai mempertimbangkan manfaat jangka panjang sebelum memutuskan membeli suatu produk.
Sebagai solusi, Yuda mengajak masyarakat memulai perubahan dari langkah sederhana. Membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja yang dapat dipakai berulang kali, serta memilah sampah sesuai jenisnya menjadi kebiasaan kecil yang memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten. Ia juga mengingatkan masyarakat Buleleng untuk mendukung kebijakan pemilahan sampah berdasarkan jadwal ganjil dan genap yang telah diterapkan pemerintah daerah. Menurutnya, perubahan gaya hidup tidak harus dilakukan secara ekstrem, tetapi dimulai dari keputusan sehari-hari yang lebih bijaksana.
Di akhir, Yuda menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan berarti harus mengorbankan kenyamanan atau berhenti menikmati hidup. Justru, dengan mengurangi perilaku konsumtif dan lebih bijak dalam berbelanja, masyarakat dapat menghemat pengeluaran sekaligus mengurangi timbulan sampah. Ia berharap semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa setiap keputusan kecil, termasuk saat menekan tombol "checkout", memiliki dampak terhadap kelestarian bumi. Dengan kesadaran tersebut, generasi muda dapat menjadi bagian dari solusi dalam menjaga lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....