Pinjol dan Judol Mengancam Kesehatan Mental Generasi Muda Kini

  • 26 Jun 2026 08:45 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Fenomena pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) terus menjadi persoalan serius yang mengancam berbagai kalangan, terutama generasi muda. Di balik kemudahan akses yang ditawarkan, banyak orang justru terjebak dalam lingkaran utang dan kecanduan yang berdampak pada kesehatan mental. Hal tersebut disampaikan Psikolog Laras Purnamasari, S.Psi., M.Psi. saat menjadi narasumber dalam program Obrolan SPADA RRI Singaraja, Kamis, 25 juni 2026. Menurutnya, persoalan pinjol dan judol tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh cara seseorang menghadapi tekanan hidup dan mengambil keputusan.

Laras menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang terjerat pinjol maupun judol berada dalam situasi mendesak sehingga mencari jalan keluar yang dianggap paling cepat. Sayangnya, keputusan tersebut sering kali diambil tanpa pertimbangan matang karena dorongan emosi lebih dominan dibandingkan logika. "Ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan, mereka cenderung mencari solusi instan. Pinjol terlihat seperti penyelamat, sementara judol menawarkan harapan mendapatkan uang dengan cepat, padahal keduanya justru bisa memperburuk keadaan," ujar Laras. Ia menambahkan, kemampuan berpikir rasional sangat dibutuhkan agar seseorang tidak mudah tergoda oleh tawaran yang tampak menguntungkan dalam waktu singkat.

Lebih lanjut, Laras mengungkapkan bahwa faktor psikologis menjadi penyebab utama seseorang sulit keluar dari jeratan tersebut. Pada pelaku judi online, muncul keyakinan bahwa kemenangan besar akan segera datang jika terus bermain. Sementara pengguna pinjaman online sering kali meyakini bahwa kondisi keuangan akan membaik pada bulan berikutnya sehingga utang dapat dilunasi. "Harapan yang tidak realistis inilah yang membuat seseorang terus mengulang perilaku yang sama. Akhirnya muncul siklus gali lubang tutup lubang yang semakin sulit dihentikan," ucap Laras. Menurutnya, pola pikir semacam ini perlu disadari sejak awal agar tidak berkembang menjadi kecanduan yang lebih berat.

Sebagai langkah pencegahan, Laras mengajak masyarakat untuk meningkatkan kontrol diri sebelum mengambil keputusan finansial. Ia menilai penting bagi setiap orang memahami risiko penggunaan layanan keuangan digital, memperkuat literasi keuangan, serta membiasakan diri membuat perencanaan keuangan yang sehat. Khusus bagi mereka yang telah terlanjur terjebak judi online, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran diri untuk berhenti, memblokir akses terhadap situs perjudian, serta mencari dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Mengalihkan perhatian pada aktivitas yang lebih produktif juga dinilai efektif membantu memutus kebiasaan buruk tersebut.

Di akhir, Laras menegaskan bahwa kesehatan mental harus menjadi prioritas utama dibandingkan tekanan untuk memperoleh uang secara instan. Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan memperbaiki kondisi hidup selama berani mengambil langkah yang tepat dan tidak ragu mencari bantuan profesional apabila merasa kehilangan kendali. Menurutnya, membangun kesadaran diri, mengelola keuangan dengan bijak, dan berani meminta pertolongan merupakan kunci agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak mudah terjebak dalam lingkaran pinjaman online maupun judi online yang dapat merusak masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....