Bukan Sekedar Tiup Lilin Ini Makna Perayaan Hari Lahir bagi Umat Hindu

  • 25 Jun 2026 11:34 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Fenomena perayaan hari lahir di kalangan umat Hindu kini kian beragam. Sebagian masyarakat memilih merayakannya dengan ritual tradisional Otonan, sebagian mengadopsi tradisi Barat berupa perayaan ulang tahun lengkap dengan kue tart, tiup lilin, serta menyanyikan lagu Happy Birthday to You dan tidak sedikit pula yang memadukan keduanya sekaligus.

Mengutif dari buku Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu (2001) karya I Ketut Wiana, umat Hindu diajak untuk menelisik kembali rujukan serta nilai filosofis di balik tradisi yang mereka jalani.

I Ketut Wiana menegaskan, secara mendasar kedua jenis perayaan ini memiliki perhitungan waktu yang berbeda. Perayaan ulang tahun merujuk pada kalender masehi dan diperingati setiap 365 hari sekali. Sebaliknya, Otonan setiap 210 hari sekali berdasarkan pertemuan antara Saptawara (siklus 7 hari), Pancawara (siklus 5 hari), dan Wuku (siklus 30 minggu).

Bagi umat Hindu di Bali, otonan bukan sekadar perayaan ulang tahun atau bertambahnya usia, melainkan sebuah upacara sakral yang berfungsi sebagai penyucian diri, ungkapan rasa syukur, dan penyelarasan jiwa dengan alam semesta.

Umat Hindu Bali memercayai adanya konsep Kanda Pat (Empat saudara spiritual) yang menyertai manusia sejak di dalam kandungan (ari-ari, darah, air ketuban, dan lamad). Saat otonan, saudara empat ini dipuja dan diberikan persembahan (banten) agar mereka menjadi pelindung spiritual bagi si anak.

Dalam Lontar Kanda Pat Sari, tersurat:

"Sira Sang Kanda Pat mwang Sang Hyang Atma, matemahan raksasa mwang dewa nunggil ring awak sarira, yadin nemoning wetu sira kaaturang segehan mwang banten parerebon, kalinganya mangda sira matulung ring urip, doyan nuntun ring kadirghayusan."

Artinya: "Mereka Sang Kanda Pat dan Sang Hyang Atma, berwujud kekuatan gaib dan kedewataan yang menyatu di dalam tubuh. Jika pada hari kelahiran (otonan) mereka dipersembahkan segehan dan banten parerebon, tujuannya agar mereka membantu mengawal kehidupan, serta menuntun menuju umur yang panjang (kadirghayusan)."

Setiap komponen dalam Banten Otonan memiliki makna simbolis. Salah satu ritual penting adalah mengikatkan Benang Tetebus. Dalam Lontar Yadnya Prakerti dijelaskan bahwa benang tetebus berfungsi sebagai simbol penguat tekad, konsistensi dalam dharma, dan pengikat kehidupan.

Menurut Jro Mangku Gede Dana Pemangku Pura Bukit Sinunggal desa Tajun, Buleleng, Benang Tetebus berfungsi sebagai pengikat agar atma (jiwa) tetap berada di jalurnya dan selalu ingat akan asal muasalnya.

“Benang tetebus itu merupakan simbol penghubung antara jiwa bagi orang yang diupacarai dengan sang sane ngeraganin (Atman yang lahir kembali ke dunia dalam wujud jasmani baru) yang disebut dengan yang Punarbhawa, hubungannya dengan alam semesta, hubungannya dengan Tuhan Sang Maha pencipta,” ujar Jro Mangku.

Meski demikian, masuknya unsur global tidak serta-merta dilarang. Budaya asing dinilai sah-sah saja diadopsi selama mampu memperkaya khasanah budaya nasional, bersesuaian dengan kepribadian bangsa, serta tidak bertentangan dengan filosofi agama Hindu.

Bagi umat yang ingin memadukan perayaan ulang tahun modern dengan napas Hindu, disarankan menggunakan nasi tumpeng tradisional dan dilengkapi sarana persembahan Canang dan Dakṣiṇa. Dilanjutkan dengan prosesi sembahyang bersama keluarga serta pemotongan tumpeng.

Esensi terdalam dari peringatan hari lahir dalam Hindu adalah penyucian diri demi meningkatkan spiritualitas, bukan pesta pora. Wiana menggarisbawahi bahwa perayaan ulang tahun atau Otonan semestinya diarahkan pada kegiatan yang sarat bobot rohani sekaligus ajang refleksi spiritual dan pengembangan diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....